Putin dan Xi Jinping Saling Topang Hadapi AS dan Ukraina
Putin-Xi Jinping Saling Topang Hadapi AS dan Ukraina

Kunjungan tahunan Vladimir Putin ke China menjadi salah satu dari sedikit perjalanan luar negerinya dalam lima tahun terakhir sejak invasi Rusia ke Ukraina. Kali ini, presiden Rusia tersebut datang dengan delegasi besar. Namun, media internasional lebih fokus pada pertemuan Putin dengan Presiden Xi Jinping, terutama karena beberapa hari sebelumnya Presiden AS Donald Trump baru saja menyelesaikan kunjungannya ke China.

Hasil Pertemuan Putin-Xi

Para ahli yang diwawancarai DW tidak melihat perubahan signifikan dalam hubungan bilateral. Harapan utama Rusia tidak dipenuhi China. Tidak ada kesepakatan mengenai pipa gas baru Rusia untuk China.

Di satu sisi, Xi Jinping dan Vladimir Putin menekankan kemitraan strategis dan persahabatan tanpa batas kedua negara. Mereka menandatangani lebih dari 20 perjanjian kerja sama, termasuk terkait kecerdasan buatan dan energi. Namun, harapan utama Rusia, yaitu penyelesaian proyek Power of Siberia 2, kembali tidak terwujud.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Sren Urbansky, Profesor Sejarah Eropa Timur di Ruhr-Universitt Bochum, Jerman, mencatat bahwa Rusia telah lama bernegosiasi mengenai proyek ini, tetapi China tetap memegang kendali. Setelah kunjungan, perwakilan Rusia menyatakan bahwa kedua belah pihak hampir mencapai kesepakatan, namun detailnya belum final. Proyek gas tersebut direncanakan memasok hingga 50 juta meter kubik gas per tahun melalui pipa sepanjang 4.000 kilometer dari Siberia Barat melintasi Mongolia ke China. Kapasitas itu sebanding dengan pipa Nord Stream dari Rusia ke Jerman.

Posisi Tawar China Lebih Kuat

Penetapan harga dan ketentuan kontrak masih menjadi topik kontroversial. China memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Terputusnya pasokan energi melalui Selat Hormuz akibat perang AS-Iran melawan Israel tidak mengubah posisi tawar China secara signifikan.

James Brown, dosen di Temple University Amerika di Tokyo, setuju. Ia meyakini masalah di Selat Hormuz bersifat sementara, dan pipa gas baru Rusia diperkirakan baru beroperasi menjelang akhir dekade ini. Menurutnya, China tidak akan terburu-buru membuat kesepakatan yang mengikat mereka pada pasokan energi Rusia selama bertahun-tahun.

Contoh ini menunjukkan bahwa meskipun ada kedekatan antara Moskow dan Beijing, dalam isu-isu penting seperti perjanjian energi, kepentingan nasional menjadi penentu. China tidak bersedia menghadiahi persetujuan tersebut kepada Rusia.

Retorika terhadap AS

Dalam pertemuan tersebut, retorika tajam kedua pemimpin terhadap AS sangat mencolok. Setelah kunjungan Trump ke Beijing, diharapkan nada yang lebih moderat dari China terhadap AS, namun kenyataannya sebaliknya. Kritik terhadap AS tidak dirumuskan secara langsung dalam pernyataan bersama, namun cukup banyak dilontarkan. Putin dan Xi menentang hegemoni sepihak dunia, dan Putin mengutip kata-kata Mao Zedong tentang imperialisme Amerika.

Sikap China terhadap Perang Ukraina

Eropa membahas dampak pertemuan Putin-Xi terhadap perang Rusia di Ukraina. Posisi China digambarkan sebagai netralitas pro-Rusia. Secara formal, China berada di luar konflik, tetapi mendukung Rusia dengan membeli sumber daya energi dan memasok barang penggunaan ganda yang dapat digunakan untuk sipil dan militer. Para ahli berpendapat hal ini tidak akan berubah.

China akan terus mendukung Rusia secara tidak langsung, meskipun secara terbuka bertindak sebagai perantara netral. Secara de facto, China mengisi kas perang Rusia melalui impor bahan baku dan ekspor semikonduktor serta barang ganda lainnya. Namun, jika China benar-benar mendukung Moskow, Rusia sudah lama memenangkan perang. Dukungan tersebut tidak maksimal, tetapi China juga bisa menghentikannya. Jika demikian, posisi Rusia akan lebih rentan.

James Brown menekankan bahwa China tampaknya puas dengan status quo, di mana Rusia tidak menang maupun kalah. Namun, jika Rusia berada di ambang kekalahan, China mungkin memperluas dukungannya dan beralih dari netralitas pro-Rusia ke sikap yang lebih langsung mendukung perang.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Pandangan dari Ukraina

Natalija Plaksijenko-Butyrska, pakar Asia asal Ukraina, percaya bahwa negosiasi tertutup sangat menentukan. Hasilnya akan terlihat dari langkah Rusia selanjutnya. Eskalasi berarti Putin akan melanjutkan perang. Ia yakin hal itu akan terjadi. China tidak akan menekan Rusia untuk mengakhiri perang, kecuali jika Moskow bersedia bernegosiasi karena tertekan serangan Ukraina. Barulah China akan aktif dalam diplomasi untuk membantu Rusia.