PM Spanyol Kutuk Aksi Israel Larang Kardinal Masuki Gereja di Yerusalem
Jakarta - Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez dengan tegas mengecam tindakan kepolisian Israel yang mencegah Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, memasuki Gereja Makam Suci di Yerusalem untuk mengikuti Misa Minggu Palma. Sanchez menilai tindakan ini sebagai serangan langsung terhadap kebebasan beragama dan menuntut agar Israel menghormati hukum internasional.
Kecaman Keras dari Pemimpin Spanyol
Dalam pernyataannya di platform X, Pedro Sanchez menyatakan, "Netanyahu telah mencegah umat Katolik merayakan Minggu Palma di tempat-tempat suci di Yerusalem. Tanpa penjelasan apapun, tanpa alasan atau pembenaran." Ia menekankan bahwa Spanyol mendesak Israel untuk menghormati hak kebebasan beragama, mengedepankan toleransi, dan hidup berdampingan dengan saling menghargai.
Sanchez menambahkan, "Kami mengutuk serangan yang tidak beralasan ini terhadap kebebasan beragama dan menuntut agar Israel menghormati keberagaman agama dan hukum internasional. Karena tanpa toleransi, hidup berdampingan tidak mungkin." Pernyataan ini disampaikan sebagai respons terhadap insiden yang terjadi pada Minggu, 29 Maret 2026.
Insiden Pencegahan di Gereja Makam Suci
Menurut laporan dari Patriarkat Latin Yerusalem, kepolisian Israel mencegah Kardinal Pizzaballa dan Penjaga Tanah Suci, Romo Francesco Ielpo, memasuki Gereja Makam Suci saat mereka hendak merayakan Misa Minggu Palma. Mereka dihentikan saat berjalan tanpa ciri-ciri prosesi atau upacara, yang dianggap sebagai situasi serius oleh pihak gereja.
Patriarkat menyatakan, "Akibatnya, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa abad, Kepala Gereja dicegah untuk merayakan Misa Minggu Palma di Gereja Makam Suci. Insiden ini merupakan preseden serius dan mengabaikan kepekaan miliaran orang di seluruh dunia, yang selama minggu ini, menantikan Yerusalem."
Latar Belakang Pembatasan dan Tanggapan Gereja
Sejak perang di Asia Barat pecah pada 28 Februari, otoritas Israel telah melarang pertemuan besar, termasuk di sinagoge, gereja, dan masjid, dengan membatasi pertemuan publik hingga sekitar 50 orang. Patriarkat Latin telah mengumumkan pembatalan prosesi Minggu Palma tradisional yang biasanya menarik ribuan umat setiap tahunnya.
Patriarkat mengkritik sikap Israel sebagai tergesa-gesa dan melanggar kebebasan beribadah. Mereka menyatakan, "Para pemimpin gereja telah bertindak dengan penuh tanggung jawab dan, sejak awal perang, telah mematuhi semua pembatasan yang diberlakukan. Mencegah masuknya Kardinal dan Custos, yang memikul tanggung jawab gerejawi tertinggi untuk Gereja Katolik dan Tempat-Tempat Suci, merupakan tindakan yang jelas tidak masuk akal dan sangat tidak proporsional."
Lebih lanjut, Patriarkat menegaskan bahwa keputusan Israel ini diwarnai oleh pertimbangan yang tidak tepat dan merupakan penyimpangan ekstrem dari prinsip-prinsip dasar kewajaran, kebebasan beribadah, dan penghormatan terhadap status quo. Sampai saat ini, belum ada tanggapan langsung dari kepolisian Israel mengenai insiden ini.



