Perundingan AS-Iran di Islamabad Buntu, Isu Pengayaan Uranium Jadi Penghalang
Perundingan AS-Iran Buntu, Uranium Jadi Penghalang

Perundingan AS-Iran di Islamabad Alami Kebuntuan, Isu Pengayaan Uranium Jadi Batu Sandungan

Perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang digelar di Islamabad, Pakistan, untuk membahas konflik di Timur Tengah berakhir tanpa titik terang. Salah satu penyebab utama kebuntuan adalah perbedaan pendapat mengenai syarat penghentian program pengayaan uranium, yang memicu perselisihan sengit antara kedua negara.

Delegasi AS Sebut Ada Kemajuan, Tapi Iran Dinilai Kurang Fleksibel

Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin delegasi Washington dalam perundingan dengan perwakilan Teheran di Pakistan, mengaku ada kemajuan dalam diskusi yang berlangsung. Dia menggambarkannya sebagai "sejumlah percakapan yang baik" dengan para pejabat Iran.

Vance, dalam wawancara dengan Fox News pada Senin (13/4), menyatakan bahwa "bola sekarang berada di tangan Iran". Dia menambahkan bahwa pertanyaan kuncinya adalah apakah Teheran akan menunjukkan fleksibilitas yang cukup untuk memajukan proses diskusi tersebut. Vance mengakui bahwa Iran menunjukkan beberapa kemauan untuk menyesuaikan posisi, tetapi "tidak bergerak cukup jauh". Mengenai prospek pembicaraan lanjutan, Vance meminta pertanyaan itu "sebaiknya diajukan kepada Iran".

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Saling Tawar Isu Pengayaan Uranium: AS Minta 20 Tahun, Iran Tawarkan 5 Tahun

Perundingan awal yang gagal mencapai kesepakatan mendorong Presiden AS Donald Trump memerintahkan blokade pelabuhan Iran. Penghentian program pengayaan uranium menjadi salah satu poin yang memicu perselisihan antara Iran dan AS dalam perundingan damai.

Dilansir dari TRT World, Selasa (14/4/2026), media terkemuka New York Times (NYT) dalam laporannya yang mengutip sejumlah pejabat AS dan Iran mengungkapkan bahwa Teheran menawarkan pembekuan pengayaan uranium selama lima tahun. Namun, AS mendesak Teheran untuk menangguhkan pengayaan selama 20 tahun.

Sejumlah pejabat AS yang dikutip NYT mengungkapkan bahwa Washington dalam perundingan itu mendorong Iran untuk membekukan pengayaan uranium selama dua dekade. Menurut dua pejabat senior Iran dan seorang pejabat AS yang dikutip NYT, Teheran dalam tanggapan resmi yang dikirimkan pada Senin (13/4) menawarkan jeda yang lebih singkat, yakni lima tahun.

Trump, menurut seorang pejabat AS dalam laporan NYT, menolak proposal Iran tersebut. Washington juga menuntut agar Teheran memindahkan pasokan uranium yang sangat diperkaya dari wilayah mereka. Namun, berdasarkan para pejabat yang dikutip NYT, Iran menolak tuntutan itu dan bersikeras agar pasokan uranium diperkaya tetap berada di dalam negeri. Iran menawarkan untuk mengencerkannya secara signifikan hingga ke level yang tidak layak untuk digunakan sebagai senjata.

Para pejabat AS berpendapat bahwa kekhawatiran tetap ada soal Iran akan mempertahankan kemampuan untuk memperkaya uranium kembali di masa mendatang. Hal ini menjadi dasar penolakan terhadap tawaran Iran.

Pembicaraan Lanjutan Masih Berlangsung, Tapi Belum Ada Kepastian Tanggal

Selain mengungkapkan isi perundingan AS-Iran, laporan NYT juga menyebutkan bahwa pembicaraan mengenai kemungkinan putaran selanjutnya untuk negosiasi tatap muka antara kedua negara sedang berlangsung. Namun sejauh ini, menurut NYT, belum ada tanggal yang disepakati untuk pertemuan lanjutan.

Kebuntuan ini mencerminkan kompleksitas konflik di Timur Tengah, di mana isu nuklir menjadi salah satu faktor kritis yang sulit dipecahkan. Kedua pihak tampaknya masih berusaha mencari titik temu, tetapi perbedaan yang mendasar membuat proses perundingan berjalan lambat dan penuh tantangan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga