Peran Milisi Houthi di Yaman dalam Perang Iran: Analisis Terbaru
Peran Houthi di Yaman dalam Perang Iran

Kelompok Houthi di Yaman kembali menjadi sorotan setelah melancarkan serangan rudal ke Israel dan mengumumkan blokade total terhadap pelayaran yang terkait dengan Israel di Laut Merah. Langkah ini terjadi setelah dua bulan menahan diri dari aksi militer. Juru bicara militer Houthi, Yahya Sari, menyatakan bahwa seluruh aktivitas Israel di kawasan tersebut akan dianggap sebagai sasaran militer. Otoritas Israel melaporkan bahwa upaya serangan masih terjadi hingga Selasa, namun sebagian besar berhasil digagalkan tanpa kerusakan besar.

Kembalinya Aktivitas Houthi

Menurut Abdulghani Al-Iryani, ilmuwan politik yang berbasis di Yordania dan peneliti di Sanaa Center for Strategic Studies (SCSS), kembalinya aktivitas Houthi berkaitan erat dengan perang antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Kemajuan pasukan Israel di Lebanon memicu kemarahan besar di kalangan masyarakat Yaman, sehingga Houthi merasa harus merespons. Serangan ini juga memenuhi harapan para pendukung Houthi, serta Hizbullah dan Iran, yang merupakan bagian dari aliansi mereka.

Meski demikian, Al-Iryani tidak memperkirakan Houthi akan menerapkan blokade besar-besaran di Laut Merah. Langkah semacam itu dapat merusak hubungan dengan Arab Saudi, yang masih menjadi mitra ekonomi penting bagi Yaman. "Menghancurkan hubungan itu sama saja dengan bunuh diri," ujarnya. Ia memperkirakan aksi terbatas terhadap kapal-kapal yang terkait langsung dengan Israel lebih mungkin terjadi.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Legitimasi Internal dan Unjuk Kekuatan

Pandangan berbeda disampaikan Christoph Leonhardt, wakil direktur perusahaan analisis Middle East Minds yang berbasis di Berlin. Menurutnya, serangan rudal Houthi lebih merupakan sinyal politik dan strategis untuk memperoleh legitimasi internal dan menunjukkan kekuatan kepada pihak luar. Namun, ia membedakan antara serangan langsung ke Israel dan strategi pencegahan di jalur maritim. Houthi kemungkinan akan melanjutkan operasi terbatas namun efektif di Selat Bab al-Mandab, sementara eskalasi langsung dengan Israel relatif kecil kemungkinannya karena keterbatasan kapasitas.

Dalam menjalankan aktivitasnya, Houthi masih bergantung pada dukungan Iran sebagai bagian dari "Poros Perlawanan". Iran menyediakan pasokan senjata, pelatihan, dan dukungan strategis, meskipun Houthi tetap mempertahankan tingkat kemandirian operasional tertentu. Seberapa besar ketergantungan ini masih menjadi perdebatan di kalangan pengamat.

Kekuatan Militer yang Masih Diperhitungkan

International Crisis Group (ICG) dalam analisis terbarunya menilai bahwa meskipun mengalami kerugian besar, Houthi tetap merupakan kekuatan militer yang patut diperhitungkan. Kelompok ini "jauh dari kondisi kehabisan tenaga". Berbagai aksi mereka tidak hanya bertujuan mendukung Iran, tetapi juga mengamankan masa depan politik sendiri. Sejak perang Gaza dimulai, Houthi semakin menampilkan diri sebagai bagian dari aliansi regional yang menentang Israel dan Amerika Serikat, yang membantu meningkatkan popularitas dan memperkuat klaim sebagai aktor penting di kawasan. Konfrontasi dengan musuh eksternal juga dapat mengalihkan perhatian dari persoalan ekonomi yang membelit Yaman.

Ambisi Kekuatan Regional

Meskipun demikian, kemampuan Houthi memiliki batas. Konflik berkepanjangan berpotensi menguras persediaan rudal, drone, dan amunisi. Belum jelas sejauh mana Iran dapat terus memasok kebutuhan sekutunya jika negara itu sendiri menghadapi tekanan militer yang lebih besar. Leonhardt menilai bahwa Houthi memiliki tujuan strategis dan ambisi kekuatan regional mereka sendiri. Bahkan gencatan senjata yang stabil antara Iran dan Israel belum tentu menghentikan serangan mereka. Kekuatan utama Houthi terletak pada kemampuan menimbulkan kerugian ekonomi besar melalui drone, rudal, dan serangan terhadap jalur perdagangan. Posisi strategis di sekitar Selat Bab al-Mandab memberi bobot penting dalam kalkulasi keamanan kawasan. Perluasan aktivitas maritim Houthi dapat mengganggu stabilitas pasokan minyak global dan mendorong kenaikan harga energi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Risiko bagi Houthi

Namun, serangan yang lebih besar juga membawa risiko besar. Jurnalis Arab Saudi Abdulrahman Al-Rashed menulis bahwa Iran kini telah menggerakkan "lengan ketiganya" yang berpotensi mengancam pelayaran di Bab al-Mandab. Ancaman ini dapat meningkatkan tekanan terhadap lawan Iran, tetapi juga memperbesar risiko bahwa kemampuan militer Houthi yang tersisa akan dihancurkan melalui serangan balasan. Ilmuwan politik Yaman Abdulkarim Ghanem menyatakan bahwa Houthi memang mampu memberlakukan blokade parsial, tetapi penutupan total akan menjadi "bunuh diri strategis demi kepentingan Teheran".

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman dan diadaptasi oleh Rizki Nugraha.