Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa keberhasilan diplomasi lingkungan tidak boleh hanya diukur dari tercapainya target angka emisi, penurunan karbon, atau besarnya investasi hijau. Menurutnya, inti dari seluruh perundingan lingkungan adalah memastikan bumi tetap lestari dan layak huni bagi generasi mendatang. Pernyataan ini disampaikan Jumhur dalam rangka London Climate Action Week (LCAW) 2026 di London, Inggris, sebagaimana dilansir Antara pada Sabtu (27/6/2026).
Diplomasi Lingkungan sebagai Tanggung Jawab Universal
Jumhur menjelaskan bahwa diplomasi lingkungan bukan sekadar perundingan antar pemerintah, melainkan pertemuan berbagai pihak yang sama-sama bertanggung jawab menjaga rumah bersama. "Momentum London Climate Action Week 2026 menjadi kesempatan untuk mengimplementasikan diplomasi lingkungan bagi Indonesia, sekaligus memperlihatkan bahwa Indonesia telah siap dengan isu lingkungan yang kini menjadi bahasa universal yang melampaui batas negara, sistem politik, maupun kepentingan ekonomi jangka pendek," ujarnya.
Kehadiran Indonesia dalam forum tersebut bukan sekadar memenuhi undangan internasional, tetapi menunjukkan komitmen negara dengan kekayaan alam yang luar biasa untuk ikut menentukan arah masa depan bumi. Salah satu momen penting adalah pertemuan delegasi Indonesia dengan Raja Charles III pada acara Super-pollutant High-level Reception di Istana St. James. Dalam kesempatan itu, Jumhur menyampaikan salam hangat dari Presiden RI Prabowo Subianto kepada Raja Charles III.
Sambutan Hangat Raja Charles III
Sambutan Raja Charles III menunjukkan bahwa hubungan antarbangsa tidak hanya dibangun melalui perdagangan atau keamanan, tetapi juga melalui kepedulian terhadap kelestarian alam. Raja Charles III mengapresiasi komitmen Presiden Prabowo dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat sekaligus menjaga keanekaragaman hayati Indonesia. Perhatian Raja Charles terhadap lingkungan Indonesia bukan hal baru; pada 2008, saat masih menjadi Pangeran Wales, ia mengunjungi kawasan restorasi ekosistem Hutan Harapan di Jambi untuk memahami tantangan pelestarian hutan hujan tropis, termasuk pembalakan liar.
Indonesia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Raja Charles III terhadap upaya pelestarian lingkungan. Sikap saling menghargai ini menegaskan bahwa penyelesaian masalah lingkungan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Perubahan iklim, pencemaran udara, dan hilangnya keanekaragaman hayati adalah tantangan lintas batas yang membutuhkan kerja sama global.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Pendekatan Menyeluruh
London Climate Action Week mempertemukan ribuan peserta dari berbagai latar belakang: pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, akademisi, peneliti, hingga anggota parlemen. Keberagaman ini menunjukkan bahwa solusi krisis iklim tidak bisa hanya bergantung pada satu sektor. Pemerintah menyusun kebijakan, ilmuwan menghadirkan pengetahuan, dunia usaha mengembangkan inovasi, masyarakat sipil mengawasi pelaksanaan, dan masyarakat luas menjadi pelaku utama perubahan melalui pilihan sehari-hari.
Menurut Jumhur, tidak ada solusi tunggal untuk mengatasi krisis iklim. Yang dibutuhkan adalah pendekatan menyeluruh yang menghubungkan pembangunan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan sosial. "Untuk itu, Indonesia mengambil posisi strategis. Sebagai salah satu negara megabiodiversitas terbesar di dunia, Indonesia menyimpan kekayaan hayati daratan dan lautan yang penting bagi keseimbangan ekosistem global," katanya. Hutan tropis, mangrove, terumbu karang, dan ribuan spesies endemik merupakan modal alam yang nilainya melampaui batas administratif sebuah negara. Menjaganya berarti ikut menjaga stabilitas iklim dunia.
"Di masa ini, pembangunan tidak lagi dapat dipisahkan dari keberlanjutan lingkungan. Kemajuan ekonomi yang mengabaikan alam akan kehilangan fondasi jangka panjangnya, sementara perlindungan lingkungan yang tidak memperhatikan kesejahteraan masyarakat juga sulit bertahan. Kedua tujuan tersebut harus berjalan beriringan," papar Jumhur.
Persoalan Nyata dan Manfaat bagi Masyarakat
Kehadiran Indonesia di forum internasional tersebut juga memiliki arti tersendiri. Jumhur menjadi salah satu dari sedikit menteri lingkungan hidup yang diundang secara khusus dalam pertemuan eksklusif para pemimpin dunia, tokoh lingkungan, dan pengambil kebijakan. Pembahasan tidak berhenti pada komitmen normatif, tetapi menyentuh persoalan nyata seperti super polutan, emisi gas metana, dan karbon hitam dari energi fosil. Diskusi bersama Menteri Lingkungan Hidup Inggris Mary Creagh, Menteri Energi dan Iklim Inggris Ed Miliband, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, serta berbagai tokoh internasional menunjukkan bahwa tantangan lingkungan membutuhkan kolaborasi berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebijakan yang saling melengkapi.
"Namun, makna terbesar dari seluruh rangkaian peristiwa tersebut justru berada jauh dari ruang-ruang konferensi. Setiap pembahasan mengenai perubahan iklim pada akhirnya bermuara pada kehidupan masyarakat sehari-hari," kata Jumhur. Hutan yang lestari menjaga ketersediaan air bersih, laut yang sehat menopang kehidupan nelayan, udara bersih melindungi kesehatan anak-anak, dan keanekaragaman hayati menjadi sumber pangan, obat-obatan, serta peluang ekonomi berkelanjutan.
"Lingkungan bukan sekadar isu ekologis, melainkan fondasi kualitas hidup manusia. Keberhasilan menjaga lingkungan tidak dapat hanya diukur dari banyaknya perjanjian internasional atau jumlah forum yang dihadiri. Ukurannya adalah sejauh mana kebijakan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan memastikan sumber daya alam tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang," ucap Jumhur.
Diplomasi internasional menjadi penting ketika mampu memperkuat upaya di dalam negeri, menghadirkan pengetahuan baru, memperluas kemitraan, dan membangun kepercayaan bahwa Indonesia merupakan bagian dari solusi global. "Karena pelestarian lingkungan adalah investasi lintas generasi. Keputusan yang diambil hari ini akan menentukan seperti apa bumi yang diwariskan kepada anak cucu kelak," terang Jumhur. Ketika dunia semakin menyadari bahwa kesejahteraan manusia dan kesehatan alam tidak dapat dipisahkan, maka setiap langkah untuk melindungi hutan, laut, udara, dan keanekaragaman hayati adalah langkah untuk menjaga harapan. "Di tengah berbagai tantangan global, harapan itulah yang perlu terus dipelihara, karena bumi yang sehat akan selalu menjadi syarat utama bagi kehidupan yang adil, sejahtera, dan berkelanjutan," jelas Jumhur.



