Menlu Iran Salahkan AS Atas Kegagalan Perundingan Damai
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara terbuka menyalahkan Amerika Serikat atas kegagalan perundingan damai yang bertujuan mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu. Pernyataan ini disampaikan setelah ia tiba di Saint Petersburg, Rusia, sebagai bagian dari tur diplomatik kilat di tengah kebuntuan upaya perdamaian antara Teheran dan Washington.
“Pendekatan AS menyebabkan putaran negosiasi sebelumnya, meskipun ada kemajuan, gagal mencapai tujuannya karena tuntutan yang berlebihan,” ujar Araghchi di Saint Petersburg pada Senin (27/4) waktu setempat, seperti dilansir AFP.
Di Saint Petersburg, Araghchi dijadwalkan bertemu langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Kunjungan ke Rusia ini dilakukan setelah ia melakukan kunjungan singkat ke Pakistan dan Oman, yang berperan sebagai mediator konflik.
Perundingan Buntu dan Pembatalan Kunjungan Utusan AS
Islamabad sebelumnya menjadi tuan rumah putaran pertama dan satu-satunya perundingan damai Iran-AS yang gagal mencapai kesepakatan. Kunjungan Araghchi ke Pakistan pada akhir pekan sempat memicu harapan akan adanya negosiasi baru, hingga Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana kunjungan utusan khusus AS, Steve Witkoff, serta penasihat dan menantunya, Jared Kushner, ke Pakistan.
Pembatalan itu terjadi setelah Teheran menolak melakukan pembicaraan langsung dengan Washington dan memilih menyampaikan kekhawatiran mereka melalui Islamabad sebagai mediator. Selama di Pakistan, Araghchi bertemu dengan sejumlah pejabat senior, termasuk Perdana Menteri Shehbaz Sharif.
Trump, dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu (26/4), menyatakan bahwa Iran dapat menghubungi AS kapan pun jika ingin melanjutkan negosiasi. “Mereka tahu apa yang seharusnya ada dalam perjanjian. Sangat sederhana: mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Jika tidak demikian, tidak ada alasan untuk bertemu,” tegasnya. Ketika ditanya apakah pembatalan kunjungan utusannya ke Pakistan menandakan pertempuran akan kembali berlanjut, Trump menegaskan, “Tidak, itu tidak berarti demikian.”
Upaya Diplomasi Jalur Belakang
Sementara itu, sebagai tanda bahwa upaya perdamaian melalui jalur belakang masih berlangsung, kantor berita Fars melaporkan bahwa Iran telah mengirimkan “pesan tertulis” kepada AS melalui Pakistan sebagai mediator. Pesan tersebut disebut menguraikan garis merah, termasuk masalah nuklir dan Selat Hormuz. Namun, Fars menekankan bahwa pesan-pesan itu bukan bagian dari negosiasi formal.
Media AS, Axios, dengan mengutip seorang pejabat AS dan dua sumber lainnya yang memahami persoalan itu, melaporkan bahwa Iran telah mengirimkan proposal baru kepada AS melalui Pakistan. Proposal Teheran itu memprioritaskan pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade laut oleh AS sebagai langkah awal, dengan negosiasi nuklir ditunda ke tahap selanjutnya.



