Analisis Alasan Rusia Tidak Langsung Turun Bantu Iran dalam Perang yang Memanas
Mengapa Rusia Tak Langsung Bantu Iran dalam Perang?

Perang Kian Memanas, Mengapa Rusia Tak Kunjung Bantu Iran?

Hanya beberapa jam setelah bom Israel dan Amerika Serikat mulai menghantam Teheran pada Sabtu, 28 Februari 2026, Rusia mengeluarkan pernyataan tegas melalui perwakilan tetapnya untuk PBB, Vassily Nebenzia. Ia menyebut serangan tersebut sebagai "tindakan agresi bersenjata tanpa provokasi terhadap negara anggota PBB yang berdaulat dan merdeka." Namun, pernyataan keras itu tidak diikuti dengan intervensi militer langsung. Padahal, Rusia merupakan salah satu sekutu utama Iran, dan potensi runtuhnya rezim Iran dapat mengancam kepentingan geopolitik dan ekonomi Moskow. Lantas, mengapa Rusia tidak turun langsung membantu Iran?

Kemitraan Rusia–Iran Tidak Berlandaskan Ideologi

Menurut Nikita Smagin, peneliti Rusia dan Timur Tengah yang berbasis di Azerbaijan, kemitraan Rusia dan Iran tidak dilandasi ideologi. "Politikus Rusia tidak secara khusus menyukai Iran, tetapi mereka memandangnya sebagai mitra strategis yang dapat diandalkan karena kedua negara sama-sama berada di bawah sanksi internasional," jelasnya. Ini berbeda dengan hubungan Rusia dengan Turki atau Mesir yang bisa saja menghentikan perdagangan jika ditekan Barat.

Kerja sama ekonomi antara Moskow dan Teheran mencakup proyek vital seperti Koridor Transportasi Utara-Selatan sepanjang 7.200 kilometer, yang ditandatangani bersama India pada tahun 2000. Sekitar 75% proyek ini telah rampung, menurut Gulf Research Center. Di sisi militer, Iran telah memasok drone Shahed ke Rusia sejak 2023, yang dinilai mengubah dinamika perang di Ukraina. Julian Waller, analis dari Center for Naval Analyses, menyatakan, "Iran berguna bagi upaya perang Rusia, meskipun produksi drone kini sebagian besar telah dilokalisasi di Rusia dengan desain yang ditingkatkan." Rusia juga dilaporkan berbagi intelijen serta mengirimkan rudal dan amunisi ke Teheran.

Iran Salah Perhitungan atas Dukungan Rusia?

Meski ada kerja sama erat, para pakar sepakat bahwa kecil kemungkinan Rusia akan melakukan intervensi aktif dalam perang AS-Israel dengan Iran. "Kedua negara bukan sekutu pertahanan," kata Waller. Faktor lain adalah kesepakatan informal non-agresi antara Rusia dan Israel.

Mojtaba Hashemi, pakar hubungan internasional, mengungkapkan bahwa Teheran sebenarnya mengharapkan dukungan politik dan militer yang nyata dari Moskow, termasuk kerja sama teknis militer yang diperluas dan pengiriman pesan penangkal yang jelas kepada musuh. "Rusia dan China memiliki persoalan yang lebih besar untuk dipikirkan. Dukungan mereka selama ini terbatas pada pasokan senjata dan alat represi bagi Iran," katanya. Namun, Mohammad Ghaedi, dosen di George Washington University, menilai minimnya dukungan Rusia tidak mengejutkan para pemimpin Iran, mengingat skeptisisme terhadap ketergantungan pada Moskow sudah lama ada di Teheran.

Untung-Rugi Rusia dalam Perang Iran

Perang Iran yang berkepanjangan ternyata memiliki sisi positif bagi Rusia. Gregoire Roos dari Chatham House menyebut perhatian media terhadap Ukraina akan berkurang karena fokus dunia tertuju pada Iran. "Selain itu, AS tidak mampu mempertahankan front lain dari sisi diplomatik dan dukungan militer. Hierarki prioritas jelas akan bergeser ke Timur Tengah," ujarnya.

Secara ekonomi, Rusia berpotensi diuntungkan karena Iran menutup Selat Hormuz, yang melonjakkan harga energi. "Jika harga minyak dan gas tetap tinggi selama berbulan-bulan atau bahkan setahun, itu akan sangat menguntungkan Rusia sebagai eksportir minyak dan gas," kata Waller. Namun, kemungkinan jatuhnya rezim Iran akan menjadi kemunduran besar bagi posisi Rusia, yang berupaya menampilkan diri sebagai kekuatan besar dalam tatanan dunia multipolar.

Masa Depan Aliansi Rusia–Iran

Hashemi menilai minimnya dukungan Rusia berpotensi meretakkan hubungan kedua negara. "Rusia dan China pada dasarnya menggunakan Iran sebagai kartu tawar geopolitik terhadap Barat. Jika rezim saat ini semakin melemah, Rusia kemungkinan akan mencari jaminan dari pemerintahan Iran berikutnya," ujarnya. Sementara itu, Ghaedi berpandangan rezim Iran tetap ingin mempertahankan kedekatan dengan Rusia, terutama karena Moskow memiliki hak veto di Dewan Keamanan PBB.

Artikel ini mengadaptasi laporan dari Deutsche Welle, menyoroti kompleksitas hubungan strategis antara Rusia dan Iran di tengah konflik yang terus memanas.