Korban Tewas Serangan Israel di Lebanon Capai 826, 5 Rumah Sakit Ditutup
Korban Tewas Serangan Israel di Lebanon Capai 826 Orang

Korban Tewas Serangan Israel di Lebanon Meningkat Jadi 826 Orang

Kementerian Kesehatan Lebanon mengumumkan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan Israel di negara tersebut telah mencapai 826 orang. Data yang dirilis pada Sabtu (14/3/2026) ini juga mencatat terdapat 2.009 orang terluka sejak konflik memanas pada 2 Maret lalu.

Korban Sipil dan Medis Terus Bertambah

Berdasarkan laporan yang dikutip dari Al-Jazeera, di antara korban tewas tersebut terdapat setidaknya 65 wanita dan 106 anak-anak. Sektor kesehatan juga mengalami pukulan berat dengan jumlah paramedis yang gugur meningkat menjadi 31 orang.

Dua petugas kesehatan yang sebelumnya dilaporkan hilang berhasil ditemukan dari reruntuhan pusat layanan kesehatan primer di Burj Qalawiya. Namun, situasi infrastruktur medis tetap kritis.

"Lima rumah sakit terpaksa ditutup karena serangan langsung atau ancaman keamanan yang terus meningkat," ungkap laporan resmi kementerian.

Ancaman Peningkatan Korban dan Pernyataan Hizbullah

Para pejabat Lebanon memperingatkan bahwa jumlah korban tewas masih berpotensi meningkat lebih lanjut. Tim penyelamat terus melakukan pencarian di lokasi-lokasi yang rusak parah, sementara fasilitas medis yang tersisa berada di bawah tekanan operasional yang sangat berat.

Pada Jumat (13/3), pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan kesiapan kelompoknya untuk menghadapi konfrontasi panjang dengan Israel. Pernyataan ini disampaikan menyusul ancaman Tel Aviv yang akan membuat Lebanon membayar "harga yang semakin mahal" dalam hal kerusakan infrastruktur.

"Kita telah mempersiapkan diri untuk konfrontasi panjang, dan insya Allah, mereka akan terkejut di medan perang," tegas Qassem dalam pidato televisi terbarunya. "Ini adalah pertempuran eksistensial, bukan pertempuran yang terbatas atau sederhana."

Serangan terhadap Infrastruktur Publik

Serangan Israel lainnya pada Jumat (13/3) menghancurkan sebuah jembatan strategis yang membentang di atas Sungai Litani. Jembatan ini menghubungkan kota Zrariyeh dan Tayr Falsay, serta berperan penting dalam memisahkan wilayah Lebanon bagian selatan dengan wilayah timur dan barat.

Militer Israel dalam pernyataannya menggambarkan jembatan yang dihancurkan tersebut sebagai "perlintasan kunci" bagi Hizbullah "untuk membangun kekuatan dan mempersiapkan diri bagi pertempuran".

Serangan terhadap jembatan ini menandai pertama kalinya Israel secara terbuka mengakui menyerang infrastruktur publik Lebanon sejak perang di Timur Tengah kembali memanas. Situasi ini memperlihatkan eskalasi konflik yang semakin meluas dan berdampak langsung pada populasi sipil serta layanan dasar.