Israel dan Lebanon kembali sepakat untuk menerapkan gencatan senjata. Kesepakatan ini dicapai setelah kedua negara mengadakan perundingan yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) di Washington pada Rabu, 3 Juni 2026 waktu setempat.
Detail Kesepakatan Gencatan Senjata
Menurut pernyataan bersama yang dirilis, gencatan senjata mensyaratkan 'penghentian total' tembakan oleh Hizbullah yang didukung Iran. Kedua pihak, yang tidak memiliki hubungan diplomatik formal, juga sepakat untuk menciptakan 'zona percontohan'. Di zona tersebut, angkatan bersenjata Lebanon akan mengambil kendali eksklusif dan mengesampingkan semua aktor non-negara.
Pernyataan itu menambahkan bahwa kedua pihak akan bertemu kembali untuk pembicaraan lebih lanjut mengenai jalur politik dan keamanan pada Minggu, 22 Juni 2026, dengan tujuan mencapai kesepakatan komprehensif.
Klaim AS tentang Kemajuan Perundingan
Sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS mengklaim bahwa 'kemajuan terus berlanjut' dalam pembicaraan antara Israel dan Lebanon. Juru bicara Departemen Luar Negeri Tommy Pigott, dalam pernyataan yang dilansir CNN pada Rabu, 3 Juni 2026, mengatakan, "Kemajuan terus berlanjut di jalur politik dan keamanan saat kita melepaskan diri dari kegagalan 20 tahun terakhir dan maju menuju kesepakatan komprehensif yang bertujuan untuk memulihkan kedaulatan Lebanon dan memastikan keamanan Israel."
Pigott juga menyebutkan bahwa pembicaraan akan berlanjut keesokan harinya. Pengumuman ini disampaikan beberapa jam setelah Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan Iran sedang berupaya untuk 'menghalangi' upaya diplomatik antara kedua negara.
Latar Belakang Konflik
Konflik antara Israel dan Lebanon telah berlangsung lama, dengan Hizbullah sebagai aktor non-negara yang sering terlibat dalam pertempuran. Gencatan senjata sebelumnya telah beberapa kali disepakati namun seringkali gagal bertahan. Dengan mediasi AS, diharapkan kesepakatan kali ini dapat lebih langgeng.



