Iran Tegaskan Respons Terhadap Serangan yang Diluncurkan dari Negara Tetangga
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya akan terpaksa merespons setiap serangan atau upaya invasi musuh yang diluncurkan dari negara tetangga. Pernyataan ini disampaikan melalui siaran televisi pemerintah pada Minggu (8/3/2026), seperti dilaporkan oleh AFP.
Pezeshkian menegaskan bahwa respons Iran bukan berarti memusuhi negara tersebut, melainkan dilakukan sesuai kebutuhan. "Jika musuh Iran mencoba menggunakan negara mana pun untuk menyerang atau menginvasi tanah kami, kami akan terpaksa merespons serangan itu," ujarnya.
Ia menambahkan, "Merespons bukan berarti kami memiliki perselisihan dengan negara itu atau ingin mencelakai rakyatnya -- kami akan merespons karena kebutuhan." Pernyataan ini ditujukan kepada musuh Iran yang diduga mencoba menyerang menggunakan wilayah negara lain.
Garda Revolusi Siap Perang Sengit Selama Enam Bulan
Sementara itu, dalam pernyataan terpisah, Garda Revolusi Iran mengklaim bahwa pasukannya dapat berperang sengit selama enam bulan dengan kecepatan pertempuran saat ini melawan Amerika Serikat dan Israel.
Juru bicara Garda Revolusi, Ali Mohammad Naini, mengungkapkan bahwa Iran sejauh ini telah menggunakan rudal "generasi pertama dan kedua", tetapi akan menggunakan "rudal jarak jauh yang lebih canggih dan jarak digunakan" dalam beberapa hari mendatang.
Konflik antara AS-Israel dengan Iran telah memasuki minggu kedua, meningkatkan dampak regional secara signifikan. Serangan terbaru dilaporkan menargetkan Arab Saudi dan Kuwait, dengan drone yang dicegat menuju kawasan diplomatik di Riyadh dan serangan menghantam tangki bahan bakar di bandara internasional Kuwait.
Kekhawatiran Pasokan Energi dan Serangan Infrastruktur Minyak
Serangan terhadap penyimpanan bahan bakar penerbangan Kuwait memperparah kekhawatiran atas pasokan energi global. Perusahaan minyak nasional Kuwait mengumumkan pengurangan produksi minyak mentah karena ancaman terhadap Selat Hormuz, yang menjadi jalur transit seperlima minyak dan gas dunia.
Di sisi lain, Iran menuduh AS dan Israel menyerang depot minyak di Teheran pada hari Sabtu. Ini merupakan serangan pertama yang dilaporkan terhadap infrastruktur minyak republik Islam tersebut, terjadi di tengah anjloknya pasar saham dan melonjaknya harga minyak mentah.
Militer Israel mengakui menyerang "sejumlah fasilitas penyimpanan bahan bakar di Teheran" yang digunakan "untuk mengoperasikan infrastruktur militer". Mereka juga melancarkan gelombang serangan baru "di seluruh Teheran" pada hari Minggu.
Eskalasi Konflik dan Pernyataan Pemimpin Israel
Serangan Israel sebelumnya menargetkan komandan kunci di Pasukan Quds, sayap operasi luar negeri Garda Revolusi Iran, di sebuah hotel di daerah pusat Beirut yang populer di kalangan wisatawan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersumpah untuk melanjutkan perang melawan Iran "dengan segenap kekuatan kami".
Israel berencana untuk melenyapkan kepemimpinan Iran setelah serangan gabungan AS-Israel menewaskan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pekan lalu, yang memicu konflik regional lebih luas. Sebelumnya, Presiden Pezeshkian telah meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS atas serangan di wilayah mereka.
Situasi ini menunjukkan eskalasi ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah, dengan implikasi serius bagi stabilitas regional dan ekonomi global, terutama di sektor energi.
