Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara tegas mengecam sikap negara-negara Barat yang dinilai munafik dalam menyikapi isu keselamatan nuklir. Kritik ini disampaikan melalui pernyataan resmi di media sosial X pada Sabtu, 4 April 2026, yang menyoroti perbedaan respons Barat terhadap risiko nuklir di dua lokasi berbeda.
Perbandingan Sikap Barat di Ukraina dan Iran
Araghchi membandingkan kekhawatiran besar yang sebelumnya disuarakan Barat terkait keselamatan nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia di Ukraina dengan sikap diam mereka atas serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran. Menurutnya, reaksi ini menunjukkan kontras yang sangat mencolok dan mengungkapkan kepentingan politik yang selektif.
Minimnya Respons terhadap Serangan di Iran
Dalam pernyataannya, Araghchi menyoroti minimnya respons Barat terhadap serangan yang menargetkan infrastruktur nuklir Iran, termasuk PLTN Bushehr. Ia menegaskan bahwa sikap ini bertolak belakang dengan prinsip keselamatan nuklir global yang seharusnya diterapkan secara konsisten, tanpa memandang negara atau kepentingan geopolitik.
Isu keselamatan nuklir seharusnya menjadi prioritas universal, namun menurut Araghchi, Barat justru menunjukkan standar ganda yang merugikan Iran. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan internasional yang terus memanas, dengan Iran berulang kali menjadi target operasi militer asing.
Implikasi bagi Diplomasi Global
Kecaman ini tidak hanya menyoroti isu keselamatan nuklir, tetapi juga mencerminkan dinamika diplomasi global yang kompleks. Araghchi menekankan bahwa sikap munafik Barat dapat mengikis kepercayaan dalam upaya kolektif untuk menjaga stabilitas nuklir dunia.
Pernyataan Iran ini diharapkan dapat memicu diskusi lebih lanjut tentang konsistensi kebijakan internasional, terutama dalam konteks perlindungan fasilitas nuklir di zona konflik. Isu ini tetap relevan mengingat meningkatnya ketegangan di berbagai wilayah yang memiliki infrastruktur nuklir sensitif.



