Iran Ancam Tenggelamkan Kapal-kapal AS di Selat Hormuz, Respons Atas Blokade Militer
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah semakin memanas setelah penasihat militer pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengeluarkan peringatan keras terhadap Amerika Serikat. Dalam pernyataan yang dilansir oleh AFP pada Kamis, 16 April 2026, Iran mengancam akan menenggelamkan kapal-kapal AS di Selat Hormuz jika Washington memutuskan untuk mengatur jalur pelayaran strategis tersebut.
Blokade Militer AS Memicu Ancaman Serius
Ancaman ini muncul sebagai respons langsung atas blokade militer yang diberlakukan AS di perairan sekitar Selat Hormuz, atas perintah Presiden Donald Trump. Blokade tersebut diterapkan setelah Iran memblokir pelayaran di jalur perairan itu selama enam minggu perang, yang diwarnai oleh gencatan senjata dua minggu yang rapuh. AS berargumen bahwa langkah ini diperlukan untuk menjaga keamanan pasokan energi global, tetapi Teheran menilai hal ini sebagai tindakan provokatif.
Mohsen Rezaei, mantan panglima tertinggi Garda Revolusi Iran yang kini ditunjuk sebagai penasihat militer, menyampaikan ancaman tersebut dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran pada Rabu, 15 April 2026. "Kapal-kapal Anda ini akan ditenggelamkan oleh rudal-rudal pertama kami dan telah menciptakan bahaya besar bagi militer AS. Mereka pasti dapat terkena rudal-rudal kami dan kami dapat menghancurkan mereka," tegas Rezaei. Dia juga mempertanyakan legitimasi AS sebagai polisi di Selat Hormuz, dengan menyatakan, "Tuan Trump ingin menjadi polisi di Selat Hormuz. Apakah ini benar-benar tugas Anda? Apakah ini tugas tentara yang kuat seperti AS?"
Latar Belakang Ketegangan dan Kegagalan Perundingan
Blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di kawasan tersebut telah berlangsung sejak awal pekan ini, sebagai upaya untuk menekan Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz dan kembali ke meja perundingan. Namun, upaya diplomatik mengalami kemunduran setelah gagalnya perundingan damai antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan lalu. Perundingan itu awalnya dimaksudkan untuk memfinalisasi gencatan senjata, tetapi penolakan Iran untuk meninggalkan ambisi nuklir dan perselisihan soal pengayaan uranium menghambat tercapainya kesepakatan.
Rezaei, yang dikenal sebagai tokoh garis keras bahkan di dalam Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), juga menyampaikan pandangan ekstrem mengenai kemungkinan invasi darat AS. Dia mengatakan bahwa akan "hebat" jika AS melancarkan invasi karena Iran akan menyandera ribuan orang dan meminta tebusan US$ 1 miliar per sandera. Namun, dia menekankan bahwa ini adalah pandangan pribadi dan tidak mendukung perpanjangan gencatan senjata.
Dampak Blokade dan Prospek Kedepan
Militer AS telah menegaskan bahwa blokade laut tersebut sepenuhnya menghentikan perdagangan yang masuk dan keluar dari Iran melalui jalur laut, memberikan tekanan ekonomi yang signifikan terhadap Teheran. Sebagai veteran dan tokoh terkemuka yang memimpin IRGC dari tahun 1981 hingga 1997, Rezaei memiliki pengaruh besar dalam kebijakan pertahanan Iran, membuat ancamannya patut diperhatikan oleh komunitas internasional.
Ketegangan ini memperlihatkan bagaimana persaingan geopolitik antara Iran dan AS terus meningkat, dengan Selat Hormuz sebagai titik kritis yang dapat mempengaruhi stabilitas global. Ancaman penenggelaman kapal dan blokade militer menambah kompleksitas situasi, menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan yang sudah rentan ini.



