India Mundur dari Pencalonan Tuan Rumah COP33: Tanda Melemahnya Konsensus Iklim Global
Ketika Perdana Menteri Narendra Modi menyatakan komitmen India untuk menjadi tuan rumah konferensi iklim di KTT Dubai pada Desember 2023, momen itu dipandang sebagai sinyal ambisius bahwa negara siap memimpin, terutama sebagai suara dari Global South. Pencalonan tersebut bahkan mendapat dukungan dari kelompok BRICS pada Juli 2025, mewakili kawasan Asia-Pasifik di bawah PBB. Namun, dalam perkembangan mengejutkan, India secara diam-diam menarik diri melalui surat tertanggal 2 April 2026, menurut laporan eksklusif dari Climate Home News.
Pergeseran Prioritas dan Melemahnya Relevansi COP
Konferensi tahunan Conference of the Parties (COP) adalah forum iklim PBB yang mempertemukan 198 pihak untuk merundingkan respons terhadap perubahan iklim. Menjadi tuan rumah bukan hanya soal gengsi, tetapi juga peluang untuk mempengaruhi agenda global. Namun, para ahli menilai penarikan diri India mencerminkan pergeseran prioritas, di mana COP memiliki status lebih rendah di tengah ketidakstabilan global.
Chandra Bhushan, kepala International Forum for Environment, Sustainability and Technology di Delhi, menjelaskan, "Salah satu alasan utama adalah relevansi COP yang terus menurun dalam mendorong tindakan iklim global yang berarti. Hilangnya kepercayaan di antara negara-negara pada KTT Belem di Brasil, di mana beberapa negara mengingkari komitmen sebelumnya, menjadi titik balik." KTT tersebut dihadiri sedikit peserta dengan minim keterlibatan politik tingkat tinggi, termasuk AS yang tidak mengirim perwakilan penting.
India sendiri telah menunjukkan kesediaan terlibat dalam multilateralisme iklim, dengan memperbarui NDC untuk periode 2031–2035 di bawah Perjanjian Paris. Targetnya termasuk penurunan intensitas emisi hingga 47%, 60% kapasitas listrik dari sumber nonfosil, dan penyerapan karbon tambahan 3,5–4 miliar ton melalui peningkatan tutupan hutan. Namun, kini ada konsensus kuat di dalam negeri bahwa tindakan iklim domestik lebih kunci untuk pembangunan berkelanjutan.
Beban Finansial dan Ketidakadilan Pendanaan
Abinash Mohanty, kepala sektor global perubahan iklim di IPE Global, memandang penarikan diri India sebagai langkah pragmatis. "Pertama, sistem global tidak memenuhi harapan. Negara-negara maju berjanji menyediakan 100 miliar dolar AS per tahun pada 2020 untuk pendanaan iklim, namun gagal memenuhi komitmen. Janji-janji baru pun hanya mencakup sebagian kecil dari kebutuhan negara berkembang," ujarnya.
Mohanty menekankan bahwa India telah menunjukkan kinerja baik di dalam negeri, dengan melampaui 50% kapasitas terpasang non-fosil, mencapai 200-Gigawatt energi terbarukan, dan mengurangi intensitas emisi lebih dari sepertiga sejak 2005—sebagian besar menggunakan sumber daya sendiri. "Menjadi tuan rumah COP33 akan menimbulkan biaya besar, menghabiskan dana dan modal politik untuk proses global yang belum tentu adil bagi Global South," tambahnya. Sebaliknya, India fokus pada platform seperti Aliansi Surya Internasional.
Menghindari Sorotan dan Tekanan Global
Menjadi tuan rumah COP33 akan menempatkan India di pusat siklus penilaian global berikutnya, namun juga berarti sorotan lebih tajam pada ketergantungan negara pada batu bara. Meski maju di energi terbarukan, India tetap konsumen dan produsen batu bara terbesar kedua di dunia.
Jurnalis lingkungan Jayanta Basu menilai, sebagai tuan rumah, India akan mendapat tekanan untuk menunjukkan target iklim lebih ambisius, termasuk jadwal penurunan emisi. "Pemerintah India sedang menata ulang prioritas menjelang pemilu 2029, dengan banyak tuntutan yang membebani sistem. Mereka mungkin memilih fokus pada prioritas dalam negeri dan acara besar lain," kata Basu. Sorotan juga berpotensi membatasi ruang gerak kebijakan domestik.
Lavanya Rajamani, profesor hukum lingkungan di University of Oxford, menambahkan bahwa sorotan tidak hanya pada kebijakan energi, tetapi juga interaksi India dengan kelompok kritis dan masyarakat sipil. Ia berpendapat konsensus global soal iklim saat ini sedang "menunggu momentum," dan keputusan India lebih dipengaruhi faktor domestik. "Di tengah perhatian global terpecah, langkah ini kemungkinan tidak berdampak besar secara politik, meski India melewatkan kesempatan kepemimpinan," ujarnya.
Untuk saat ini, India tampaknya memilih lebih berhati-hati dalam menampilkan diri di panggung dunia, dengan fokus pada strategi yang dapat dikendalikan langsung.



