China Kuasai Riset Global, Rivalitas Antariksa dengan AS Makin Panas
China Kuasai Riset Global, Rivalitas Antariksa dengan AS Makin Panas

Lai Kai-ying menjadi perempuan China pertama yang mencapai luar angkasa. Saat ini, ia bertugas di stasiun luar angkasa Tiangong bersama dua astronaut China lainnya, mengelilingi Bumi 16 kali per hari. Tiangong merupakan laboratorium mikrogravitasi untuk eksperimen ilmiah yang dirancang mengungkap potensi masa depan manusia di luar angkasa.

Persaingan Antariksa Abad ke-21

Persaingan penerbangan dan antariksa kembali diwarnai rivalitas ideologis, mirip perlombaan antara AS dan Uni Soviet pada abad ke-20. Namun, di abad ke-21, pesaing utama AS adalah China. Badan Antariksa AS NASA berencana menghentikan operasional Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada 2032. Jika itu terjadi, China akan menjadi satu-satunya negara yang mengoperasikan stasiun luar angkasa berpenghuni secara permanen.

China Pimpin Riset Teknologi Tercanggih

Menurut Nature, sektor antariksa hanyalah satu dari banyak bidang yang menunjukkan keunggulan teknologi China. Dalam indeks terbaru yang memuat peringkat institusi serta negara dan wilayah, Nature menempatkan China di posisi pertama, jauh di atas AS dan Jerman. Sembilan dari sepuluh institusi riset teratas berasal dari China. Universitas Harvard dari AS berada di peringkat ketiga, sedangkan Max Planck Society (MPG) dari Jerman menempati posisi ke-13.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

“Kini, menjadikan peringkat global sebagai acuan sudah tidak relevan. Universitas dan lembaga riset di China memimpin di banyak bidang,” ujar juru bicara MPG Christina Beck. Indeks Nature juga menunjukkan bahwa institusi riset China unggul dalam biologi, kimia, fisika, dan berbagai ilmu terapan. Sementara itu, AS masih memimpin di bidang ilmu kesehatan dan ilmu sosial.

Investasi Jangka Panjang Jadi Kunci

Direktur Manajemen Informasi di German Research Foundation (DFG), Richard Heidler, mengatakan kemajuan riset China berjalan konsisten selama dua dekade terakhir. “Pada awal 2000-an, jumlah publikasi ilmiahnya meningkat pesat. Dalam satu dekade terakhir, analisis bibliometrik juga menunjukkan peningkatan dampak riset, tercermin dari bertambahnya publikasi yang sering dikutip,” kata Heidler. Artinya, China tidak hanya mempublikasikan lebih banyak riset, tetapi juga meningkatkan kualitas dan visibilitasnya.

Menurut Beck, keberhasilan tersebut merupakan hasil proses pengembangan jangka panjang. “Kuncinya adalah pendanaan berkelanjutan bagi institusi ilmiah dan universitas di China selama bertahun-tahun, terutama melalui program pelatihan peneliti di tingkat internasional dan investasi besar pada infrastruktur riset berskala besar,” ujarnya. Pemerintah China sadar teknologi adalah kunci kesuksesan, tercermin dalam Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030) yang menargetkan penguatan kapasitas inovasi nasional. Inti strategi Beijing adalah pengembangan “kekuatan produktif baru”, yakni mesin pertumbuhan berbasis inovasi yang ditopang teknologi canggih dan transformasi industri. Rencana tersebut fokus pada kecerdasan buatan, teknologi kuantum, fusi nuklir, bioteknologi, antarmuka otak-komputer, serta eksplorasi laut dalam dan antariksa.

Rivalitas Politik Batasi Kerja Sama

China dan AS juga bersaing ketat dalam perlombaan kembali ke Bulan. China menargetkan misi berawak ke Bulan pada 2030, sementara kemampuan NASA menjalankan misi Artemis yang menargetkan pendaratan di dekat kutub selatan Bulan pada 2028 masih belum pasti akibat keterlambatan program. China juga berencana membangun pangkalan permanen di Bulan sebagai batu loncatan eksplorasi lebih jauh. China menjadi satu-satunya negara yang berhasil membawa pulang sampel batuan dari sisi jauh Bulan, yang kini diteliti sebagai potensi material pembangunan pangkalan.

Melalui Amandemen Wolf (2011), NASA dilarang bekerja sama dengan badan antariksa China. Kebijakan ini mencerminkan kuatnya rivalitas geopolitik dan ideologi. Badan Antariksa Eropa (ESA) juga mengurangi kerja sama dengan Beijing, meskipun astronaut Eropa sempat belajar bahasa Mandarin dan berlatih bersama taikonaut. Kementerian Riset, Teknologi, dan Antariksa Jerman membatasi kerja sama di bidang yang berpotensi bersinggungan dengan kepentingan militer, terutama teknologi dual-use dan kecerdasan buatan yang berpotensi disalahgunakan untuk pengawasan dan pelanggaran HAM.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Kerja Sama Tetap Berlanjut dengan Kehati-hatian

Sejumlah negara Eropa kini memandang China sebagai pesaing, sehingga manfaat dan risiko kerja sama ilmiah perlu dipertimbangkan. “Kami ingin tetap mempertahankan kerja sama di bidang penelitian yang tidak menimbulkan kekhawatiran terkait risiko dual-use,” kata Beck. Contohnya adalah penggunaan teleskop FAST di Provinsi Guizhou, China, yang memiliki diameter 500 meter. “Kolaborasi ini memberi kami akses pada infrastruktur yang unik,” ujarnya.

Ingrid Krssmann dari Sino-German Center for Research Promotion (SGC) menambahkan, “DFG ingin memberikan kepastian bagi peneliti di Jerman agar proyek kolaborasi berkualitas dengan mitra di China tetap bisa berlangsung.” Beck mengatakan lembaga penelitian Jerman menghadapi tantangan akibat perkembangan politik di Beijing, meningkatnya ketegangan geopolitik, dan keterkaitan erat antara penelitian sipil dan militer. Oleh karena itu, Max Planck Society berupaya membentuk kerja sama secara “terinformasi, bertanggung jawab, dan strategis.”

Sementara itu, Beijing terus memperluas diplomasi luar negeri melalui teknologi. Setelah Lai Kaiying menyelesaikan misinya di Tiangong, Beijing akan menjadi tuan rumah bagi astronaut asing pertamanya, diperkirakan mulai Oktober 2026. Dua kandidat astronaut asal Pakistan kini menjalani pelatihan, salah satunya akan dipilih untuk misi tersebut. Langkah ini menunjukkan bahwa aliansi geopolitik merambah ke luar angkasa dan China melibatkan negara mitra dalam ekspansi program antariksanya.