China hingga Inggris Tolak Seruan Trump Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz
China hingga Inggris Tolak Seruan Trump Kirim Kapal Perang

China hingga Inggris Tolak Seruan Trump Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Sehari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan pembentukan koalisi angkatan laut internasional untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz, sejumlah negara besar memberikan respons tegas. Pejabat dari China, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris secara kompak menolak untuk berkomitmen mengirimkan kapal perang mereka ke selat strategis tersebut. Penolakan ini disampaikan pada Minggu, 15 Maret 2026, menandai ketidaksepahaman dengan inisiatif Trump.

Seruan Trump melalui Platform Truth Social

Sebagai informasi, Trump telah menggunakan platform pribadinya, Truth Social, untuk mendesak banyak negara agar mengirimkan kapal perang guna mengamankan Selat Hormuz. Selat ini ditutup akibat konflik yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah, menimbulkan kekhawatiran atas gangguan jalur perdagangan global. Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa negara-negara yang terkena dampak upaya Iran untuk menutup Selat Hormuz harus bergabung dengan Amerika Serikat.

"Banyak negara, terutama negara-negara yang terkena dampak upaya Iran untuk menutup Selat Hormuz, akan mengirimkan Kapal Perang, bersama dengan Amerika Serikat, untuk menjaga agar Selat tetap terbuka dan aman," kata Trump, seperti dikutip dari media internasional Le Monde. Seruan ini bertujuan membentuk aliansi militer untuk memastikan keamanan dan kelancaran lalu lintas maritim di wilayah tersebut.

Respons Negatif dari Negara-Negara Kunci

Namun, respons dari negara-negara yang disebutkan menunjukkan penolakan yang jelas. China, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris semuanya menolak untuk berkomitmen dalam pengiriman kapal perang, meskipun mereka mungkin terdampak oleh penutupan selat. Penolakan ini mencerminkan kehati-hatian dalam keterlibatan militer di kawasan yang sedang memanas, serta pertimbangan diplomatik dan strategis lainnya.

Penolakan kolektif ini dapat mempengaruhi dinamika keamanan di Timur Tengah dan upaya internasional untuk menangani krisis di Selat Hormuz. Dengan negara-negara besar menahan diri, koalisi angkatan laut yang diusulkan Trump mungkin menghadapi tantangan dalam merealisasikan tujuannya untuk menjaga selat tetap terbuka.