China Dekati Eropa demi Tatanan Dunia Multipolar Tanpa AS?
China Dekati Eropa untuk Tatanan Dunia Multipolar

Dalam sebuah acara talk show politik milik Shanghai Media Group (SMG), seorang mahasiswa hukum melontarkan pertanyaan tajam: apakah elit dan masyarakat di Eropa menyadari bahwa benua mereka kini telah kehilangan arti secara geopolitik maupun ekonomi? Pertanyaan tersebut mencerminkan persepsi yang berkembang di ruang publik China tentang kondisi Eropa saat ini: pertumbuhan ekonomi yang stagnan, kebijakan luar negeri yang bergantung pada Amerika Serikat, serta kemampuan pertahanan yang terbatas.

Pandangan Beijing tentang Eropa

Menurut Zhang Weiwei, dekan di China Institute, hampir semua dinamika di Eropa masih berkaitan dengan AS. Ia menilai banyak warga Eropa menganggap masa kepresidenan Donald Trump hanya sebagai fase sementara dan belum menerima perubahan realitas yang sedang berlangsung. Namun, semakin banyak pihak yang mulai menyadari kenyataan tersebut.

Vuk Jeremi, mantan presiden United Nations General Assembly, menambahkan bahwa banyak intelektual Prancis kesulitan menerima perubahan global yang begitu cepat. Beijing melihat masa depan dunia dalam tatanan multipolar, di mana China bersama Rusia dan negara-negara lain akan ikut menentukan arah global.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Eropa sebagai Kutub Mandiri

Dalam visi Beijing, Eropa dipandang sebagai salah satu kutub kekuatan yang mandiri. Logika di balik pandangan ini sederhana: Eropa memiliki dua kursi veto di Dewan Keamanan PBB melalui Prancis dan Inggris, serta pasar tunggal yang menarik bagi ekonomi China yang berorientasi ekspor. Para pejabat Beijing menilai perusahaan Eropa dan China dapat saling melengkapi, dengan Eropa unggul dalam teknologi dan China menawarkan kapasitas produksi besar dengan harga kompetitif.

Dari perspektif Beijing, kondisi ini membuka peluang untuk menjadikan Eropa sebagai mitra strategis, asalkan Eropa mampu menjalankan kebijakan luar negeri dan ekonomi yang lebih independen dari Washington.

Stagnasi Globalisasi

Ding Chun, profesor di Fudan University, menyatakan bahwa globalisasi telah memasuki fase stagnasi sejak akhir Perang Dingin. Dominasi AS di lembaga seperti IMF dan Bank Dunia, yang dikenal sebagai "Konsensus Washington", selama ini menopang berbagai program ekonomi di Amerika Latin dan Eropa. Namun, zaman telah berubah. Generasi muda semakin jenuh dengan elite politik tradisional, dan media sosial membuat hasil pemilu sulit diprediksi.

Dalam konteks ini, China mencoba menantang "Konsensus Washington" dengan menempatkan PBB sebagai panggung utama bagi visi tatanan globalnya. Saat berkunjung ke Beijing pada 29 April, Presiden Majelis Umum PBB Annalena Baerbock menyatakan bahwa China memiliki peran penting dalam menjaga multilateralisme. Pernyataan ini kontras dengan sikap Baerbock pada 2023 ketika ia menyebut Presiden Xi Jinping sebagai "diktator". Menteri luar negeri China Wang Yi memanfaatkan kunjungan tersebut untuk menekankan perlunya reformasi PBB.

Krisis di Eropa

Menurut Jeremi, hubungan erat AS-Eropa terbentuk setelah Perang Dunia II karena ancaman komunisme. Setelah runtuhnya Tembok Berlin, Eropa menikmati kemakmuran panjang. Namun, serangkaian krisis mulai muncul: krisis keuangan global, krisis migrasi 2015, Brexit, masa jabatan pertama Trump, dan memburuknya hubungan Eropa-Rusia. "Situasi saat ini jelas jauh dari ideal," kata Jeremi.

Sulit Lepas dari Amerika

Zhang Weiwei menilai Uni Eropa masih cenderung mengikuti kebijakan AS dan menginternalisasi logika NATO. Ia merujuk pada strategi NATO: menjaga Rusia tetap di luar, menahan Jerman, dan memastikan AS tetap di dalam. Namun, pola itu tidak selalu sejalan dengan kepentingan Eropa. Decoupling dari AS akan sangat sulit dilakukan, salah satunya karena kegagalan Eropa memimpin revolusi digital Industri 4.0. Dari 20 perusahaan teknologi internet terbesar di dunia, tidak satu pun berasal dari Eropa. Platform digital Amerika mendominasi pasar Eropa.

Ironisnya, beberapa tahun lalu China berharap belajar dari Jerman mengenai Industri 4.0, namun kini konsep itu hampir tak lagi menjadi pusat pembicaraan. Pesan Beijing kepada Brussel sederhana: Eropa perlu lebih mandiri dan menjadi mitra pragmatis bagi China. "Eropa telah belajar pelajaran tentang kerendahan hati," kata Zhang, merujuk pada hubungan tegang dengan Trump. Banyak pemimpin Eropa kini menyadari bahwa prioritas strategis dalam ekonomi dan teknologi sulit dicapai tanpa kerja sama dengan China.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Tulisan ini merupakan bagian dari seri "Decoding China" dari Deutsche Welle yang mengulas narasi China tentang isu global dari perspektif Jerman dan Eropa.