Mengenang Asa Bafagih: Diplomat dan Tokoh Pers Indonesia yang Terlupakan
Asa Bafagih: Diplomat dan Tokoh Pers yang Terlupakan

Mengungkap Kiprah Asa Bafagih: Diplomat dan Jurnalis yang Hampir Terlupakan

Peluncuran buku "Asa Bafagih: Diplomat dan Tokoh Pers Indonesia" di Antara Heritage, Jakarta, pada Minggu (5/4/2026), menyoroti kembali sosok penting dalam sejarah bangsa yang nyaris luput dari ingatan publik. Acara ini dipandu oleh Hadi Nur Ramadhan dari Rumah Sejarah Indonesia dan dihadiri oleh tokoh-tokoh seperti mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab, wartawan senior Bambang Wiwoho, serta anggota keluarga besar Asa Bafagih.

Peristiwa Bafagih dan Prinsip Jurnalistik yang Teguh

Pada 18 Maret 1953, Surat Kabar Pemandangan membuat geger pemerintah dengan memberitakan rencana penanaman modal asing di 21 industri, yang dianggap membocorkan rahasia negara. Perdana Menteri Wilopo meminta Kejaksaan Agung menyelidiki kasus ini dan mempertanggungjawabkan Asa Bafagih sebagai Pemimpin Redaksi. Namun, Asa—yang nama lengkapnya adalah Abdillah bin Syech bin Ali—menolak mengungkapkan sumber berita dengan alasan kode etik jurnalistik.

Dia didakwa melanggar Pasal 224 KUHP karena tidak mau memberikan keterangan sebagai saksi. Akibat tekanan dari berbagai kalangan yang menentang upaya hukum tersebut, Jaksa Agung R. Soeprapto akhirnya menghentikan perkara pada 15 Agustus 1953. Peristiwa ini, yang dikenal sebagai Peristiwa Bafagih, kemudian diakui sebagai tonggak Hak Ingkar dalam dunia jurnalistik Indonesia.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kontribusi Besar dalam Jurnalistik dan Diplomasi

Nabiel A. Karim Hayaze, penulis buku tersebut, mengungkapkan bahwa penelitiannya sejak 2016 mengungkap betapa signifikannya peran Asa Bafagih. Bersama Adam Malik, ia terlibat dalam penyebaran berita Proklamasi 1945 melalui Kantor Berita Antara. Asa juga pernah berkarya di harian Merdeka milik BM Diah dan menjadi mentor bagi Harmoko, yang kelak menjadi Menteri Penerangan.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Asa Bafagih adalah pendiri surat kabar Duta Masyarakat. Namun, namanya hampir tidak dikenal oleh generasi muda NU saat ini, sebagaimana disampaikan oleh RM Joko Prawoto Mulyadi alias Okky Tirto. Ironisnya, informasi tentang Asa di platform seperti Wikipedia hanya terdiri dari tiga kalimat, dan di YouTube hanya ada cuplikan pidato singkatnya.

Hubungan Dekat dengan Tokoh Nasional dan Akhir Hidup

Putra ketujuh Asa, Rusdi Jayaputra, mengisahkan bahwa hingga pertengahan 1970-an, ayahnya sangat terkenal dan disegani di kalangan wartawan. Tulisan-tulisannya di harian Merdeka selalu dinantikan publik, dengan oplah yang meningkat signifikan setiap kali terbit. Asa juga memiliki hubungan dekat dengan Presiden Soeharto, bahkan pernah diajak menunaikan ibadah haji bersama ke Mekkah.

Meski kerap mengkritik pemerintah di era Orde Lama, Asa bersahabat dengan Presiden Sukarno. Pada 18 September 1960, Sukarno melantiknya sebagai Duta Besar untuk Sri Lanka. Empat tahun kemudian, ia dipercaya menjadi Duta Besar untuk Aljazair merangkap Tunisia, berkat penguasaan bahasa Arab dan Prancis yang memudahkan hubungannya dengan tokoh-tokoh nasional di sana.

Warisan dan Penghargaan yang Terlambat

Asa Bafagih meninggal dunia di Solo pada 13 Desember 1978 dan dimakamkan di Pemakaman Karet, Jakarta. Empat tahun setelahnya, pada 19 April 1982, Menteri Penerangan Harmoko menganugerahinya Penghargaan Dewan Pers sebagai "Perintis Pers Indonesia". Namun, Nabiel berpendapat bahwa berdasarkan rekam jejaknya, Asa layak dikenang sebagai Pahlawan Nasional, bukan sekadar untuk gelar, tetapi sebagai penanda kejujuran sejarah.

Buku ini juga mengungkap sisi personal Asa, seperti keputusannya untuk tidak memberikan nama dengan embel-embel Fam Hadhdrami kepada delapan anaknya, menunjukkan sikapnya yang membumi. Dengan peluncuran buku ini, diharapkan generasi muda dapat lebih mengenal dan menghargai kontribusi Asa Bafagih dalam membentuk landasan jurnalistik dan diplomasi Indonesia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga