Amerika Serikat mengatakan telah menembak jatuh beberapa drone Iran yang disebut menargetkan kapal-kapal komersial di Selat Hormuz pada Sabtu (13/6) pagi waktu setempat. Insiden ini terjadi beberapa jam setelah kedua pihak mengatakan kesepakatan untuk mengakhiri perang Timur Tengah semakin dekat.
Kronologi Insiden
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), yang mengawasi operasi di wilayah tersebut, memposting di media sosial X bahwa Iran telah meluncurkan beberapa drone serang satu arah dalam upaya untuk menyerang kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Pasukan AS berhasil menembak jatuh semua drone tersebut dalam beberapa jam terakhir seiring arus lalu lintas melalui selat tersebut terus berlanjut tanpa hambatan, kata CENTCOM. Mereka menambahkan bahwa selat tersebut, yang merupakan jalur perdagangan maritim utama untuk minyak dan gas dari Teluk, tetap terbuka untuk transit meskipun ada blokade yang diberlakukan Iran sejak awal perang.
Perkembangan Negosiasi Damai
Peristiwa tersebut terjadi setelah berminggu-minggu pembicaraan yang tersendat antara Teheran dan Washington, yang dimediasi oleh Pakistan. Pembicaraan itu ditandai dengan ancaman dan baku tembak, meskipun gencatan senjata yang rapuh telah disepakati pada bulan April lalu.
Pada Jumat (12/6), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menguraikan garis besar potensi nota kesepahaman dengan Washington. Jika terwujud, hal itu dapat diikuti dengan kesimpulan perjanjian antara kedua belah pihak. Araghchi mengatakan bahwa usulan memorandum kesepahaman itu akan secara resmi mengakhiri konflik di semua front, termasuk Lebanon.
Iran sekaligus meletakkan dasar untuk negosiasi tentang pencabutan sanksi, program nuklir, dan pengaturan keamanan regional. Berbicara dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi pemerintah IRIB, Araghchi mengatakan dokumen yang disebut sebagai Memorandum Kesepahaman Islamabad itu akan menandai berakhirnya perang secara resmi.
Fase Negosiasi Selanjutnya
Araghchi mengatakan fase kedua negosiasi diperkirakan akan berlangsung selama 60 hari, tetapi mungkin diperpanjang jika kedua belah pihak puas dengan kemajuan yang dicapai. Namun, jika kemajuan yang cukup tidak tercapai, proses tersebut tidak akan menghasilkan perjanjian akhir. Dalam hal itu, katanya, situasi akan kembali ke keadaan sebelum nota kesepahaman.
Insiden penembakan drone ini menjadi pengingat bahwa situasi di kawasan masih sangat rapuh, meskipun ada optimisme terkait kesepakatan damai. Selat Hormuz tetap menjadi titik rawan konflik karena kepentingan strategisnya sebagai jalur energi global.



