Survei Terbaru: Mayoritas Warga Jerman Tetap Percaya pada Demokrasi
Dalam situasi global di mana rezim otoriter semakin meningkat, kelompok populis memperoleh momentum, dan masyarakat demokratis menghadapi tekanan besar, sebuah survei terbaru memberikan secercah harapan. Survei Germany Monitor 2025 mengungkapkan bahwa mayoritas warga Jerman tetap percaya pada demokrasi, dengan dukungan yang bahkan meningkat, terutama di wilayah Jerman timur.
Dukungan Tinggi, Namun Ada Kekhawatiran
Komisaris Pemerintah Federal untuk Jerman Timur, Elisabeth Kaiser, yang juga anggota parlemen dari Partai Sosial Demokrat (SPD), menyampaikan temuan ini di Berlin pada Kamis (19/02). "Hal yang baik bahwa demokrasi sebagai bentuk pemerintahan mendapat dukungan penuh dari warga. Bahkan di bagian timur," ujarnya.
Survei yang dilakukan secara representatif terhadap 4.000 responden berusia di atas 16 tahun di seluruh Jerman sejak musim semi 2025 hingga September ini menunjukkan bahwa 98% responden menyatakan percaya pada gagasan demokrasi. Namun, hanya 60% yang menilai sistem demokrasi saat ini berjalan dengan baik.
Kaiser juga menyoroti kurangnya pemahaman mengenai prinsip dasar demokrasi. Hanya 68% responden yang mengetahui bahwa demokrasi berarti pemerintah harus mematuhi keputusan parlemen serta prinsip pemisahan kekuasaan.
Keterbukaan terhadap Otoritarianisme dan Perubahan
Meskipun dukungan terhadap demokrasi tinggi, survei ini mengungkap beberapa tantangan. Sebanyak 21% responden menunjukkan keterbukaan terhadap pemerintahan otoriter. Para peneliti menyimpulkan bahwa tingginya dukungan terhadap demokrasi bukan berarti "tidak ada yang mendukung transformasi otokratis atau otoriter dalam masyarakat."
Sebanyak 31% responden di seluruh Jerman setuju dengan pernyataan bahwa "Jerman saat ini membutuhkan partai tunggal yang kuat dan mewakili kehendak seluruh rakyat." Di wilayah bekas Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur sebelum 1990), angkanya bahkan mencapai 35%. Namun, hanya 4% responden yang setuju dengan pernyataan "dalam keadaan tertentu, diktator adalah bentuk pemerintahan yang lebih baik."
Warga Jerman juga menunjukkan penerimaan terhadap perubahan, terutama dalam isu pertahanan. Sejak Rusia melancarkan invasi ke Ukraina hampir empat tahun lalu, diskusi tentang peningkatan investasi pertahanan dan penguatan Bundeswehr (angkatan bersenjata Jerman) semakin intens. Sosiolog Reinhard Pollak dari Mannheim, yang memimpin penelitian, merangkum: "Seperempat populasi menginginkan perubahan. Seperempat lainnya skeptis, dan mayoritas yang netral bersikap ambivalen."
Pandangan Beragam tentang Imigrasi
Studi ini juga mengungkap pandangan yang beragam terhadap isu imigrasi yang kontroversial. Sebanyak 68% responden menilai Jerman perlu merekrut tenaga kerja terampil dari luar negeri, dan 59% percaya negara harus lebih aktif mendorong integrasi imigran. Namun, 28% responden berpendapat peningkatan imigrasi sejak 2015 membawa banyak perubahan negatif.
Angka ini sejalan dengan tingkat dukungan nasional terhadap partai populis sayap kanan, Alternatif untuk Jerman (AfD), yang menjadikan penolakan terhadap imigrasi sebagai agenda utama kampanyenya.
Perbedaan antara Jerman Timur dan Barat
Penelitian ini menemukan perbedaan signifikan antara Jerman Timur dan Barat. Di wilayah Barat, optimisme dan kemauan menerima perubahan tidak bergantung pada kondisi ekonomi responden. Sebaliknya, di wilayah Timur, faktor ekonomi berperan besar: warga yang tinggal di daerah yang kurang sejahtera cenderung lebih skeptis terhadap negara dan institusinya.
Hal ini juga terlihat dalam penilaian terhadap proses reunifikasi Jerman sejak 1990. Di Jerman Barat, sekitar 55% responden menilai reunifikasi secara positif. Sementara di Jerman Timur, dukungan bervariasi: mencapai 72% di wilayah yang ekonominya lebih baik, tetapi hanya 49% di daerah yang secara ekonomi kurang berkembang.
Survei Germany Monitor 2025 dilakukan bersama oleh Pusat Studi Sosial di Halle, Universitas Jena, dan Leibniz Institute for the Social Sciences (GESIS), serta didanai oleh Komisaris Pemerintah Federal untuk Jerman Timur. Temuan ini memberikan gambaran mendalam tentang sikap warga Jerman terhadap demokrasi di tengah tantangan global yang kompleks.