Dedi Mulyadi Tawarkan Pembinaan Barak Militer untuk Pelaku Kerusuhan Dago
Dedi Mulyadi Tawarkan Pembinaan Barak Militer untuk Pelaku Rusuh Dago

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan opsi pembinaan melalui program barak militer bagi para pelaku kerusuhan yang terjadi di kawasan Dago, Bandung. Dari sejumlah pelaku, enam di antaranya merupakan pelajar aktif yang masih di bawah umur. Menurut Dedi, pendekatan ini dapat menjadi salah satu cara efektif untuk membentuk pemahaman kebangsaan dan kedisiplinan generasi muda.

Pembinaan Karakter untuk Pelaku Kerusuhan

Dedi Mulyadi menyatakan bahwa para pelaku kerusuhan dapat diarahkan untuk mengikuti program pendidikan barak militer. Program ini dirancang agar mereka memahami arah bangsa dan tanggung jawab sebagai warga negara. "Nanti bisa juga diarahkan mereka untuk mengikuti program pendidikan barak militer supaya mereka mengerti arah bangsa ini ke mana dan apa yang harus dilakukan," ujarnya di Sumedang, Jawa Barat, Minggu.

Selain itu, Dedi menekankan pentingnya aspek hukum dalam penanganan kasus ini, terutama yang melibatkan anak di bawah umur. Ia merujuk pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang mengatur pidana anak. "Kita lihat aspek hukumnya. Di dalamnya kan ada pembinaan, kita lihat aspek KUHP-nya, berarti pidana anak di bawah umur," tambahnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Program Barak Militer untuk Ketua OSIS

Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak hanya mengandalkan proses hukum, tetapi juga membuka opsi pembinaan melalui pendidikan karakter berbasis kedisiplinan, termasuk model barak militer. Dedi mengungkapkan bahwa pada bulan Juni mendatang, akan ada sekitar 250 peserta yang mengikuti program tersebut, termasuk para ketua OSIS dari berbagai sekolah. "Bulan Juni ini ada sekitar 250 orang, termasuk para ketua OSIS, yang akan mengikuti pendidikan barak militer itu. Itu bisa saja mereka masuk untuk ikut dibina," jelasnya.

Niat Membuat Kerusuhan

Dedi Mulyadi menilai aksi yang berujung kericuhan pada Jumat (1/5) tersebut dilakukan tanpa pemberitahuan dan tanpa orasi. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan tersebut sudah diniatkan untuk menimbulkan gangguan keamanan. "Bukan kasus May Day. Karena May Day berjalan dengan aman dan tertib, kemudian mereka tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan, tanpa orasi. Artinya sudah diniatkan untuk membuat rusuh," tegasnya.

Dengan demikian, Pemprov Jawa Barat menegaskan bahwa pendekatan penanganan terhadap pelaku kerusuhan tidak hanya mengedepankan proses hukum, tetapi juga membuka ruang pembinaan karakter bagi para pelaku, khususnya yang masih di bawah umur. Program barak militer diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya pembinaan generasi muda agar memiliki kedisiplinan dan pemahaman kebangsaan yang lebih kuat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga