Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus menegaskan bahwa Pancasila merupakan landasan pemersatu bangsa sekaligus fondasi bagi terciptanya perdamaian dunia. Pernyataan ini disampaikan saat ia membacakan pidato tertulis Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi pada Upacara Bendera Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin (1/6).
Refleksi dan Tema Hari Lahir Pancasila 2026
Wiyagus menjelaskan bahwa Hari Lahir Pancasila bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi untuk memastikan api Pancasila tetap menyala dalam jiwa setiap insan Indonesia. Hal ini sejalan dengan tema peringatan tahun ini, yaitu "Pancasila Pemersatu Bangsa Fondasi Perdamaian Dunia". Tema ini menegaskan bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan untuk menjaga keutuhan bangsa, tetapi juga menjadi jawaban bagi terciptanya perdamaian dunia yang abadi.
Pancasila sebagai Bintang Penuntun dan Jangkar Moral
Lebih lanjut, Wiyagus menyebut Pancasila sebagai bintang penuntun yang telah membuktikan ketangguhannya. Di tengah ketidakpastian global dan ancaman fragmentasi, Indonesia tetap kokoh sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman lebih dari 17.000 pulau dan ratusan etnik dapat disatukan dalam ikatan kebangsaan. "Pancasila adalah jangkar moral kita dalam menghadapi turbulensi global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik," ujarnya.
Peran Indonesia dalam Perdamaian Dunia
Wiyagus menambahkan bahwa Indonesia bukan sekadar penonton di kancah internasional. Sesuai amanat Pembukaan UUD 1945, Indonesia memiliki tanggung jawab konstitusional untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Pancasila menjadi fondasi kebijakan luar negeri yang bebas aktif, dengan nilai musyawarah dan mufakat sebagai instrumen diplomasi yang dibutuhkan dunia untuk menjembatani perbedaan dan menghentikan konflik.
"Sebagai bangsa yang besar, kita terus menunjukkan kepemimpinan nyata. Kontribusi pasukan perdamaian Indonesia di bawah bendera PBB, peran kita dalam mediasi konflik regional, serta konsistensi menyuarakan keadilan bagi bangsa terjajah adalah pengejawantahan dari sila kedua," tegasnya.
Pancasila di Era Teknologi
Wiyagus juga menekankan bahwa Pancasila tidak hanya menjadi landasan perdamaian di tengah konflik, tetapi juga landasan moral di era perkembangan teknologi. Kemajuan teknologi tanpa arah moral dapat menyesatkan. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda, untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup, bukan sekadar hiasan di dinding kantor atau teks di buku sejarah.
"Pastikan setiap kebijakan publik lahir berlandaskan keadilan sosial, memenuhi rasa keadilan publik, menjamin hak-hak masyarakat terkecil, dan tidak membiarkan ada rakyat yang merasa ditinggalkan. Kita harus terus melawan segala bentuk intoleransi dan radikalisme yang dapat merusak harmonisasi kebangsaan," tuturnya.
Ajakan untuk Meneguhkan Komitmen Kebangsaan
Di akhir pidatonya, Wiyagus mengajak seluruh pihak untuk terus meneguhkan komitmen kebangsaan dan menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang menjunjung tinggi religiositas dengan semangat persatuan, kuat karena nilai-nilai kemanusiaannya. "Selama darah Indonesia masih mengalir di tubuh kita, Pancasila akan senantiasa hidup dalam setiap denyut nadi seluruh anak bangsa di Republik yang kita cintai. Selamat Hari Lahir Pancasila, jayalah Indonesia," pungkasnya.



