Ketua Tim Formatur Program Sekolah Rakyat, Prof. Mohammad Nuh, menegaskan bahwa peran Kepala Sekolah menjadi salah satu kunci utama keberhasilan program Sekolah Rakyat. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya monitoring terhadap kinerja Kepala Sekolah Rakyat secara berkelanjutan.
Pentingnya Monitoring Berkelanjutan
"Sehingga mohon betul, monitoring terhadap kinerja, pendampingan terhadap Kepala Sekolah, pengembangan terhadap Kepala Sekolah dan seterusnya, ini bukan kegiatan diskret, yang kadang-kadang, tapi kegiatan yang terus menerus secara berkala," ujar Prof Nuh dalam keterangannya, Rabu (10/6/2026).
Pernyataan ini disampaikan dalam Rapat Evaluasi Penyelenggaraan Sekolah Rakyat di Kantor Kementerian Sosial (Kemensos), Jakarta, Selasa (9/6). Menurutnya, Kepala Sekolah memiliki peran fundamental karena setiap hari berhadapan langsung dengan kondisi di lapangan.
Tiga Aspek Penting: Seeing, Feeling, dan Analyzing
Prof Nuh menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat tidak hanya bertujuan menghasilkan output, tetapi juga dampak (impact) bagi masyarakat. Oleh karena itu, respons masyarakat berdasarkan apa yang dilihat (seeing), dirasakan (feeling), dan dinalarkan (analyzing) menjadi sangat penting.
"Sehingga tiga satuan itu, satuan seeing, feeling, dan analyzing itu menjadi penting ya. Meskipun tampaknya (Sekolah Rakyat) bagus sekali begitu, orang juga senang, tapi kalau nalarnya tidak dapat, pada kelompok tertentu tidak dapat itu," jelasnya.
Optimalisasi Anggaran
Lebih lanjut, Prof Nuh juga menyoroti optimalisasi penggunaan anggaran agar lebih efisien namun tetap memberikan dampak maksimal. Anggaran hasil efisiensi dapat dialokasikan untuk keperluan lain yang bermanfaat.
"Nah optimasi yang kita maksudkan adalah proses yang sekarang menjadi tanggung jawab kita, optimalkan betul, jangan sampai kita terbuai dengan taruhlah kesanjungan yang diberikan oleh negara, oleh pemerintah, seakan-akan apa saja yang kita minta diturutin, tapi kita pun juga sadar betul bahwa anggaran pemerintah pun juga terbatas," kata Prof Nuh.
Perkembangan Akreditasi Sekolah Rakyat
Sekretaris Jenderal Kemensos, Robben Rico, melaporkan bahwa hingga Selasa (9/6), dari 166 Sekolah Rakyat rintisan yang telah beroperasi selama kurang lebih 11 bulan, terdapat 59 Sekolah Rakyat yang sudah terakreditasi.
"Dari 59 itu, menyusul 37 Sekolah Rakyat rintisan sudah dilakukan visitasi dan insya Allah dalam waktu dekat juga nanti bisa keluar juga, menyusul 70 SR lainnya yang sedang juga dalam proses penjadwalan teman-teman BAN-PDM untuk melakukan proses visitasi di lapangan," ujar Robben Rico.
Kebutuhan Sumber Daya Manusia
Terkait pembangunan Sekolah Rakyat permanen di 93 titik, terdapat kebutuhan SDM mulai dari kepala sekolah, guru, hingga tenaga kependidikan. Untuk kepala sekolah, 166 kepala Sekolah Rakyat rintisan yang sudah ada akan tetap bertugas, namun diperlukan 33 kepala sekolah baru untuk lokasi yang sebelumnya tidak memiliki sekolah rintisan.
"Hari ini kita minta ada 99 kandidat di masing-masing lokasi nanti, ada 3 calon usulan dari pemerintah daerah, kepala sekolahnya yang diajukan kepada kita, untuk nanti kita seleksi seperti tahun lalu," kata Robben.
Sementara itu, kebutuhan tenaga kependidikan dan guru sedang dalam proses rekrutmen, dengan kebutuhan 5.127 tenaga kependidikan, 3.053 guru mata pelajaran dan kelas, serta 331 guru agama.
"Hari ini sedang proses pendaftaran, dan nanti statusnya adalah P3K untuk penggajian dan kawan-kawannya, nanti masuk menjadi pegawai dari Kementerian Sosial," pungkasnya.
Rapat evaluasi ini turut dihadiri Plt. Inspektur Jenderal Kemensos Dody Sukmono, Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kemensos Mira Riyati Kurniasih, Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos Agus Zainal Arifin, serta pejabat terkait lainnya.



