Pramono Ungkap Akar Masalah SPMB: Daya Tampung Sekolah Favorit Terbatas
Pramono Ungkap Akar Masalah SPMB: Daya Tampung Terbatas

Keluhan SPMB: Siswa Gagal Masuk Sekolah Negeri

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung angkat bicara soal keluhan masyarakat terkait Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Banyak siswa gagal masuk sekolah negeri karena masalah umur, nilai, dan sistem desil. Pramono menegaskan bahwa sistem penerimaan siswa baru sejatinya tidak berubah secara mendasar dari tahun ke tahun, namun ketidakpuasan tetap muncul.

“Untuk penerimaan siswa baru ini kan yang sudah dilakukan dari waktu ke waktu tidak ada sesuatu yang baru sebenarnya. Dan kalau kemudian tidak semua terpuaskan, kami menyadari itu,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Jumat (26/6/2026), dikutip Senin (29/6/2026).

Akar Masalah: Daya Tampung Sekolah Favorit Terbatas

Menurut Pramono, persoalan utama selalu terletak pada terbatasnya daya tampung sekolah favorit yang menjadi rebutan calon peserta didik. Kondisi ini membuat sebagian siswa harus dialihkan ke sekolah lain meski masih berada dalam zonasi yang sama.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

“Karena apa? Keterbatasan tempat untuk sekolah-sekolah yang dianggap favorit yang menjadi rebutan. Selalu problemnya itu,” jelasnya.

Akibatnya, banyak siswa tidak bisa masuk ke sekolah yang diharapkan, meskipun sudah sesuai aturan zonasi. “Enggak bisa masuk di sekolah yang diharapkan walaupun dalam zona yang ada, akhirnya masuk di sekolah yang lain,” tambah Pramono.

Rencana Pembahasan Lebih Rinci dengan Dinas Pendidikan

Pramono mengatakan bahwa pembahasan lebih rinci terkait SPMB akan dilakukan bersama Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk mencari solusi atas berbagai keluhan yang muncul di masyarakat. Langkah ini diharapkan dapat mengatasi ketidakpuasan orang tua dan siswa yang tidak lolos di sekolah pilihan mereka.

“Kami akan duduk bersama Dinas Pendidikan untuk mengevaluasi dan mencari jalan keluar terbaik,” pungkasnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga