Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Bestari Barus, angkat bicara terkait ritual injak kepala kerbau yang dilakukan Presiden Ketujuh RI Joko Widodo (Jokowi) dalam safari politiknya di Lampung pada Sabtu (27/8). Bestari memastikan bahwa ritual tersebut bukanlah atas kemauan Jokowi, melainkan merupakan inisiatif masyarakat adat setempat sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi Jokowi selama menjabat sebagai presiden.
Ritual Bukan Atas Kemauan Jokowi
"Ritual itu bukan Pak Jokowi buat. Pak Jokowi hanya sebagai orang yang diberikan gelar tersebut," kata Bestari saat dihubungi pada Senin (29/6). Ia menambahkan bahwa ritual serupa bukan kali pertama terjadi. Berdasarkan informasi yang diterimanya, Bestari menyebut ritual dan pemberian gelar kehormatan juga pernah diberikan kepada mantan presiden terdahulu.
Namun, Bestari tidak mengungkap secara spesifik siapa sosok mantan presiden yang dimaksud. "Itu ritual itu bukan hanya ke Pak Jokowi. Tapi banyak tokoh bangsa yang lain. Bahkan menurut berita yang saya dengar, tapi perlu dikonfirmasi, bahkan salah satu presiden kita terdahulu pernah menerima itu dan menginjakkan kakinya juga di atas kepala kerbau itu," ujarnya.
Ritual sebagai Peninggalan Leluhur
Bestari menilai ritual yang dijalani Jokowi tidak pantas dianggap atau dituding sebagai bentuk keangkuhan. Ia menegaskan bahwa tudingan tersebut merupakan bentuk penghinaan terhadap adat istiadat Lampung. "Kader partai politik itu seharusnya tanya dulu. Atau tanya kepada ketua umumnya, dulu pernah nerima enggak. Kira-kira begitu, saya kira itu," ujar Bestari.
Prosesi Pemberian Gelar Adat
Dalam kesempatan tersebut, Jokowi menerima gelar "Baginda Pemuka Bangsa" dalam prosesi adat Lampung yang berlangsung di Kedatun Keagungan, Jalan Sultan Haji, Kota Bandar Lampung. Dalam momen itu, Jokowi yang duduk di kursi lengkap dengan pakaian adat, menginjak kepala kerbau yang diletakkan di atas karpet merah.
Tokoh adat Lampung, Mawardi Rahma Harirama yang bergelar Sultan Seghayo Dipuncak Nur, menjelaskan bahwa prosesi pemberian gelar adat atau muakhi telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari budaya masyarakat Lampung sejak ribuan tahun lalu. "Prosesi pemberian muakhi (gelar adat) ini memang sudah berlangsung ribuan tahun lalu di Lampung. Ini adalah bagian dari penerapan piil pesenggiri, falsafah budaya Lampung yang mengedepankan nemui nyimah atau silaturahmi," ujar Mawardi.
Tanggapan Publik dan Politik
Ritual ini menuai beragam reaksi dari publik dan kalangan politik. Sebelumnya, PDIP juga memberikan respons terkait ritual tersebut. Namun, PSI melalui Bestari Barus mengingatkan semua pihak untuk melakukan tabayun atau klarifikasi sebelum melayangkan tudingan yang tidak berdasar. Ia menekankan bahwa ritual adat semacam ini adalah warisan leluhur yang harus dihormati.



