Pramono Tegaskan Jakarta Belum Butuh Hujan Buatan Meski Cuaca Panas Ekstrem
Pramono: Jakarta Belum Butuh Hujan Buatan Meski Panas Ekstrem

Pramono Tegaskan Jakarta Belum Butuh Hujan Buatan Meski Cuaca Panas Ekstrem

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum berencana melakukan rekayasa cuaca atau hujan buatan, meskipun suhu panas ekstrem melanda ibu kota dalam beberapa hari terakhir. Pernyataan ini disampaikan Pramono saat ditemui di kawasan Monas, Jakarta Pusat, pada Selasa, 17 Maret 2026.

"Jakarta masih belum memerlukan, apa, dibuat hujan buatan," ujar Pramono dengan tegas. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang mengindikasikan potensi hujan dengan intensitas menengah saat perayaan Idulfitri mendatang.

Prakiraan BMKG Jadi Pertimbangan Utama

Pramono menjelaskan bahwa data dari BMKG menunjukkan cuaca panas sebelum Idulfitri, namun ada kemungkinan curah hujan menengah pada hari raya tersebut. "Untuk menghadapi Idulfitri, memang data BMKG menunjukkan sebelumnya cuacanya panas. Tetapi pada saat Idulfitri, ada kemungkinan curah hujan menengah," kata Pramono, seperti dilansir dari Antara.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pada Minggu, 15 Maret 2026, suhu udara di Jakarta tercatat mencapai 35,4 derajat Celcius. Sementara itu, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, mengungkapkan bahwa suhu maksimum bahkan sempat menyentuh 35,6 derajat Celsius. Kondisi ini dipengaruhi oleh langit yang relatif cerah dengan tutupan awan yang minim, sehingga radiasi matahari menembus atmosfer secara optimal.

Panas Ekstrem Diprediksi Berlanjut Hingga Idulfitri

BMKG memperkirakan bahwa kondisi panas ekstrem di Jakarta masih akan berlangsung hingga mendekati Idulfitri, sekitar tanggal 20-22 Maret 2026. Guswanto menambahkan bahwa indeks UV masuk dalam kategori ungu, yang menandakan bahaya ekstrem bagi kesehatan.

"BMKG mencatat suhu maksimum hingga 35,6 derajat Celcius dan indeks UV masuk kategori ungu atau artinya bahaya ekstrem," jelas Guswanto. Situasi ini diperkirakan terus terjadi selama masa peralihan musim, yang memerlukan kewaspadaan ekstra dari masyarakat.

Imbauan BMKG untuk Masyarakat

Menyikapi kondisi tersebut, BMKG mengeluarkan sejumlah imbauan penting bagi warga Jakarta:

  • Mengurangi aktivitas di luar ruangan saat paparan sinar matahari berada pada tingkat tertinggi, terutama antara pukul 10.00 hingga 14.00 WIB.
  • Menghindari paparan langsung matahari dan menggunakan perlindungan diri seperti topi, payung, kacamata hitam, serta pakaian berlengan panjang.
  • Menggunakan tabir surya atau sunscreen dengan SPF tinggi untuk melindungi kulit dari radiasi UV.
  • Memperbanyak konsumsi air putih guna mencegah dehidrasi akibat cuaca panas.

Dengan adanya prakiraan hujan menengah saat Idulfitri, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memilih untuk tidak terburu-buru melakukan rekayasa cuaca. Keputusan ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan alam sekaligus memastikan kesiapan menghadapi potensi perubahan cuaca dalam waktu dekat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga