Perguruan Tingi Indonesia Terhipnotis Angka, Negara Maju Tinggalkan Obsesi Peringkat
Perguruan Tingi Indonesia Terhipnotis Angka, Negara Maju Tinggalkan Obsesi

Saat ini perguruan tinggi di Indonesia tengah bersiap mengadakan seleksi ujian masuk mandiri. Berbagai data seperti peringkat universitas, jumlah profesor dan doktor, publikasi internasional, akreditasi, serta jumlah nota kesepahaman atau MoU, seringkali ditonjolkan dalam brosur atau flyer sebagai daya tarik utama kampus. Padahal, banyak negara maju sudah mulai meninggalkan obsesi serupa terhadap indikator-indikator tersebut.

Obsesi Angka yang Berkepanjangan

Perguruan tinggi di Indonesia terlalu lama terhipnotis oleh angka-angka. Setiap kali tabel pemeringkatan dirilis, ruang rapat pimpinan dipenuhi kecemasan, pembelaan diri, dan janji perbaikan. Pertanyaan yang selalu muncul berpusat pada satu hal: Bagaimana cara mengejar skor? Sangat jarang muncul pertanyaan mendasar seperti: Apa yang sebenarnya diukur oleh angka-angka tersebut, dan apakah hal itu relevan dengan misi pendidikan tinggi di Indonesia?

Perbandingan dengan Negara Maju

Di negara-negara maju, fokus pendidikan tinggi telah bergeser dari sekadar mengejar peringkat menuju peningkatan mutu pembelajaran, dampak riset terhadap masyarakat, dan pengembangan karakter mahasiswa. Banyak universitas ternama di Eropa dan Amerika Serikat kini lebih menekankan pada outcomes pendidikan, seperti kesiapan kerja lulusan, inovasi yang dihasilkan, serta kontribusi terhadap pemecahan masalah global.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak Negatif Obsesi Angka

Obsesi terhadap angka pemeringkatan dapat berdampak negatif, antara lain:

  • Mengabaikan aspek kualitas pendidikan yang tidak terukur oleh angka, seperti kreativitas, etika, dan kemampuan berpikir kritis.
  • Memicu persaingan tidak sehat antar perguruan tinggi, yang berujung pada praktik manipulasi data.
  • Mengalihkan sumber daya dari hal-hal esensial seperti pengembangan kurikulum dan kesejahteraan dosen ke aktivitas yang hanya bertujuan menaikkan peringkat.

Langkah ke Depan

Sudah saatnya perguruan tinggi Indonesia melakukan introspeksi dan mengevaluasi kembali orientasi mereka. Alih-alih terus mengejar angka, sebaiknya kampus mulai fokus pada pengembangan mutu pendidikan yang relevan dengan kebutuhan bangsa. Hal ini sejalan dengan semangat Merdeka Belajar yang digaungkan oleh pemerintah, yang memberikan keleluasaan bagi perguruan tinggi untuk berinovasi dan menentukan arah pengembangan sendiri.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga