Sejumlah pengguna Transjabodetabek menyuarakan harapan agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pemerintah provinsi penyangga, termasuk Jawa Barat, dapat bekerja sama untuk menjaga tarif layanan transportasi umum tersebut tetap terjangkau bagi masyarakat. Kekhawatiran akan kenaikan tarif menjadi perhatian utama para pengguna setia moda transportasi ini.
Harapan Pengguna Transjabodetabek
Anggi, seorang pengguna Transjabodetabek berusia 33 tahun, mengungkapkan kekhawatirannya saat ditemui di Terminal Blok M, Jakarta Selatan, pada Kamis (11/6). Ia berharap tidak ada kenaikan tarif karena Transjabodetabek merupakan pilihan transportasi termurah. Menurutnya, kenaikan tarif akan menambah beban pengeluaran harian, terutama bagi mereka yang bergantung pada transportasi umum untuk bekerja dan beraktivitas.
“Kalau bisa sih enggak naik, ya. Soalnya transportasi paling murah,” ujar Anggi. Ia juga mendukung adanya kerja sama antara Pemprov DKI Jakarta dengan pemerintah daerah penyangga dalam pengelolaan Transjabodetabek, mengingat transportasi umum masih menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat lintas wilayah.
Heri Sumarsono, pengguna lainnya, juga berharap tarif tetap dipertahankan. Meskipun sebagai lansia ia menikmati tarif gratis, ia merasa prihatin terhadap penumpang di bawah usia 50 tahun yang harus membayar tarif normal. “Walaupun saya lansia, saya enggak setuju kalau tarif naik. Kasihan yang usianya di bawah 50 tahun karena mereka masih bayar biasa,” ungkap Heri. Ia menekankan pentingnya subsidi dan stabilitas tarif untuk mendukung mobilitas masyarakat dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
Penyesuaian Tarif dan Kebijakan Pemerintah
Transjabodetabek merupakan moda transportasi yang menghubungkan Jakarta dengan wilayah penyangga seperti Bekasi, Depok, Bogor, dan Tangerang. Saat ini, tarif Transjabodetabek masih dalam tahap wacana penyesuaian dengan potensi kisaran Rp10.000 hingga Rp15.000. Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan skema tarif integrasi maksimum sebesar Rp10.000 bagi pengguna yang menggunakan lebih dari satu moda transportasi umum.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memastikan bahwa penyesuaian tarif akan dipertimbangkan berdasarkan jarak tempuh agar tidak membebani masyarakat. Ia berjanji akan mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh kemampuan ekonomi warga. “Tidak semua Transjabodetabek kenaikannya akan tinggi. Karena bagaimanapun, sebagai gubernur, saya juga mempertimbangkan kemampuan masyarakat dalam kondisi yang seperti ini,” ujar Pramono di Jakarta Selatan.
Komitmen Peningkatan Layanan
Pramono juga menegaskan komitmennya untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang nyaman. Meskipun ada penyesuaian tarif, ia berencana menambah armada Transjabodetabek untuk meningkatkan kualitas layanan. Selain itu, ia membuka peluang untuk menambah golongan baru dalam 15 golongan gratis transportasi umum di Jakarta. “Kemungkinan akan kita tambah golongannya, akan kita gratiskan. Karena supaya subsidi silangnya itu lebih adil, bagi yang tidak mampu, gratis. Bagi yang mampu, ya, bayarnya lebih tinggi sedikit,” jelas Pramono.
Untuk mendorong penggunaan transportasi umum, Pemprov DKI Jakarta telah menerbitkan Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 6 Tahun 2025 yang mewajibkan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) menggunakan transportasi umum setiap hari Rabu. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah pengguna transportasi umum dan mengurangi kemacetan.



