Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta akan mengkaji pembangunan biopori jumbo di berbagai wilayah Jakarta sebagai langkah mengatasi penumpukan sampah di Kali Gendong, Penjaringan, Jakarta Utara. Langkah ini diambil setelah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkap bahwa salah satu penyebab menumpuknya sampah di kali tersebut adalah ditutupnya TPST Bantargebang.
Pansus Dorong Optimalisasi TPS dan Biopori Jumbo
Ketua Pansus Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta Judistira Hermawan menyatakan bahwa TPST Bantargebang saat ini sudah kelebihan muatan sampah. Untuk meminimalisir sampah menumpuk di kali dan badan jalan, ia meminta SKPD dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk memanfaatkan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang ada secara maksimal.
"Terkait tumpukan sampah di Kali Gedong Jakarta Utara, ini segera saya akan koordinasikan antar SKPD ya Dinas LH dan Dinas Sumber Daya Air (SDA) termasuk Pak Wali Kota Jakarta Utara, agar ini segera ditangani, dalam situasi seperti ini ya kita akan mintakan jajaran terkait dijaga Kali atau Waduk ya, saya kira semua wilayah ya, juga dijaga jangan sampai sampah juga penuh di badan-badan jalan," kata Judistira kepada wartawan, Senin (21/6/2026).
PSEL Butuh Waktu 2-3 Tahun, Biopori Jumbo Jadi Alternatif
Judistira menyinggung pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Jakarta yang memakan waktu 2 hingga 3 tahun. Selama kurun waktu tersebut, pihaknya akan memaksimalkan TPS dan mengkaji pembangunan biopori jumbo untuk menangani sampah Ibu Kota.
"Jakarta direncanakan akan dibangun 3 atau 4 pengelolaan sampah yang menghasilkan energi listrik ya atau disebutnya PSEL, Pak Gubernur sudah menyampaikan itu, namun sampai semua itu nanti terbangun, ya kira-kira kan 2 sampai 3 tahun kan, maka Pansus Pengelolaan Sampah akan memastikan bersama Dinas LH ya, memaksimalkan fasilitas-fasilitas pengelolaan sampah di Jakarta ini, kita ada 31 TPS 3R se-DKI Jakarta, diluar Depo Depo yang dimiliki Dinas LH kemudian kita punya RDF di Rorotan dan RDF di Bantargebang," tuturnya.
"Ini semua harus berfungsi maksimal, dan Pansus sedang mengkaji kemungkinan pembangunan Biopori Jumbo di berbagai wilayah di Jakarta, apa di taman-taman, atau aset BUMD, ini lagi kita kaji, ya dan tentu sekali lagi ini semua perlu dukungan luas dari seluruh masyarakat dengan gerakan pilah sampah dari sumbernya," sambungnya.
Viral Sampah Kali Gendong dan Respons Pemerintah
Sebelumnya, Kali Gendong, Penjaringan, Jakarta Utara, viral di media sosial setelah terlihat dipenuhi tumpukan sampah. Dalam video viral itu, terlihat beberapa warga membuang sampah sembarangan di area jembatan dan sekitarnya.
Gubernur Jakarta Pramono Anung buka suara terkait persoalan tersebut. Ia mengatakan persoalan tumpukan sampah di kawasan itu salah satunya disebabkan oleh ditutupnya TPST Bantar Gebang.
"Memang kemarin karena Bantar Gebang sempat ada masalah, jadi beberapa tempat memang terjadi tumpukan sampah," ujar Pramono kepada wartawan seusai pencanangan pedestrian deck Dukuh Atas di Setia Budi, Jakarta Selatan, Minggu (21/6).
Penanganan Sampah Mulai Membaik
Meski begitu, Pramono menyebutkan persoalan itu sudah mulai ditangani. Menurut dia, sudah terlihat persoalan tumpukan sampah berkurang.
"Tetapi alhamdulillah sekarang ini penanganannya sudah bisa diatasi hampir di semua daerah yang terjadi penumpukan, secara pelan-pelan mengalami penurunan," jelasnya.
Pramono menjelaskan, setiap hari Jakarta mengirim sampah dengan 1.200 truk atau kurang lebih 9.000 ton. Menurut dia, saat ini belum sampai 1.200 tapi hampir 1.000 pengangkutan sampah per hari. Pemerintah juga menargetkan mulai 1 Agustus sampah yang dikirim ke Bantargebang hanya berupa residu setelah proses pemilahan.
"Dan juga pilah sampah mengurangi secara signifikan jumlah sampah yang harus diangkut ke Bantar Gebang. Dan kami seperti diketahui, menargetkan 1 Agustus yang akan dikirim ke Bantar Gebang adalah residunya," ucapnya.



