Ketua Umum Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI), Abdul Rivai Ras, menegaskan bahwa keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya bergantung pada penyajian makanan, melainkan harus dibangun di atas fondasi logistik yang tangguh, higienis, dan berkelanjutan.
Menurut Abdul, pendekatan konvensional tidak lagi cukup. Penerapan konsep manajemen rantai pasok pangan yang terintegrasi, dengan cold chain logistics sebagai elemen krusial, menjadi kunci untuk meminimalkan kehilangan pangan atau food loss. Hal ini disampaikannya pada Jumat, 1 Mei 2027.
Pentingnya Infrastruktur Pendingin
Abdul menjelaskan bahwa menjaga kualitas gizi dan mewujudkan sistem pangan yang resilien merupakan hal yang sangat penting. Penguatan infrastruktur ini sejalan dengan teori ketahanan pangan modern yang menekankan bahwa keamanan pangan tidak hanya soal ketersediaan, tetapi juga aksesibilitas, stabilitas pasokan, dan pemanfaatan nutrisi yang optimal.
APPMBGI memprioritaskan pembangunan gudang pangan dan cold storage di wilayah sentra produksi bahan pangan utama, seperti sentra perikanan, hortikultura, dan pertanian. Tujuannya adalah menjaga kesegaran bahan baku, terutama produk mudah rusak seperti ikan segar, sayuran, dan buah, sebelum diolah di ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG.
Fasilitas cold storage ini akan menerapkan cold chain logistics yang terkontrol suhu, sehingga dapat memperpanjang masa simpan bahan pangan, mengurangi post-harvest loss yang masih tinggi di Indonesia, serta menjamin standar keamanan pangan dan mutu gizi yang konsisten dari hulu ke hilir, dari farm-to-table atau ocean-to-table.
MBG Command and Control Center
Selain infrastruktur fisik, APPMBGI juga mengembangkan MBG Command and Control Center. Pusat kendali ini berfungsi sebagai sistem monitoring real-time yang mengintegrasikan data stok gudang, distribusi bahan baku, kualitas, serta supervisi operasional dapur di seluruh Indonesia.
Dengan pendekatan ini, APPMBGI ingin membangun sistem logistik yang transparan, responsif, dan berbasis data, yang merupakan elemen penting dalam manajemen rantai pasok pangan berkelanjutan di era industri 4.0. Abdul percaya bahwa dengan infrastruktur yang kuat, Indonesia dapat memaksimalkan penyerapan produk lokal, memberdayakan petani dan nelayan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor bahan pangan tertentu.
“Ini adalah wujud nyata bagaimana program MBG dapat menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi inklusif sekaligus instrumen ketahanan pangan nasional,” pungkas Abdul.



