Mendagri Tito Karnavian Bahas Dashboard Data Tunggal untuk Percepatan Pemulihan Pascabencana
Jakarta - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian, yang juga menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, menggelar pembahasan mengenai percepatan pemulihan pascabencana berbasis dashboard data tunggal. Pertemuan ini berlangsung saat Mendagri menerima kunjungan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) beserta jajaran di Posko Satgas yang berlokasi di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, pada hari ini.
Dashboard Data Tunggal sebagai Instrumen Penting
Dalam pertemuan tersebut, Tito mengungkapkan bahwa BPS telah memiliki data yang cukup komprehensif mengenai kondisi di wilayah terdampak bencana. Hal ini didukung oleh survei dan penugasan tim BPS yang telah turun langsung ke lokasi bencana. "Ibu Kepala BPS menyampaikan, karena beliau sudah melakukan survei dan mengirimkan banyak tim ke daerah bencana ini, tiga provinsi ini, beliau ... sudah memiliki dashboard tentang data-data bencana," kata Tito dalam keterangannya, Senin (9/2/2026).
Tito menilai, keberadaan dashboard data tunggal tersebut menjadi instrumen penting untuk menyatukan persepsi lintas kementerian dan lembaga (K/L). Selain itu, dashboard tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk membagi peran dan memantau perkembangan pemulihan di lapangan secara lebih terukur. "Kita harapkan adanya dashboard, sangat diperlukan sekali untuk menyatukan pandangan kita. Update tentang situasi daerah bencana, dan itu bisa menjadi modal kita untuk membagi tugas," ujarnya.
Fokus Penanganan pada Sepuluh Daerah Utama
Tito juga menyampaikan bahwa dari total 52 kabupaten dan kota di tiga provinsi terdampak, pemerintah memfokuskan penanganan pada sepuluh daerah utama dengan dampak paling berat. Daerah-daerah tersebut antara lain:
- Kabupaten Agam
- Padang Pariaman
- Tapanuli Utara
- Tapanuli Tengah
- Aceh Tamiang
- Aceh Timur
- Aceh Utara
- Bireuen
- Pidie Jaya
- Aceh Tengah
"Di bagian gunung, itu adalah Aceh Tengah, dengan berbagai indikator yang sudah kita buat. Daerah-daerah yang lainnya sudah saya sampaikan, itu sudah normal, banyak yang sudah normal sepenuhnya, ada yang mendekati normal," tambahnya.
Target Normal Fungsional dan Permanen
Lebih lanjut, Tito menjelaskan bahwa untuk mencapai kondisi normal fungsional, dibutuhkan waktu sekitar dua bulan apabila seluruh pihak dapat bekerja keras secara terpadu. Normal fungsional yang dimaksud yakni berfungsinya kembali pasar, sekolah, rumah sakit, listrik, serta fasilitas dasar lainnya. "Saya sampaikan, bedakan dengan normal permanen. Kalau normal permanen, butuh waktu yang lebih lama lagi, mungkin bisa sampai dua tahun," ungkapnya.
Tito kemudian membandingkan dengan pengalaman penanganan pasca tsunami Aceh, di mana Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh membutuhkan waktu hingga lima tahun. Hal itu disebabkan pembangunan infrastruktur permanen seperti jembatan dan jalan memerlukan proses panjang, termasuk pembangunan gedung-gedung publik yang rusak berat. "Di samping itu juga masalah gedung, misalnya, sekolah yang betul-betul hancur. Itu juga butuh waktu. Yang cukup lama juga adalah sungai. Karena sungainya banyak sungai besar, dan itu contoh sungai di Aceh Tamiang," tuturnya.
Dukungan Kolaborasi Lintas Kementerian
Sementara itu, Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, melaporkan perkembangan dashboard data tunggal yang disiapkan sebagai dasar penyaluran bantuan agar lebih tepat sasaran. Ia menekankan pembangunan dashboard tersebut membutuhkan dukungan kuat dan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga. "Jadi ini luar biasa yang sudah support dan dukungan dari para Kementerian dan Lembaga untuk kita bisa membangun dashboard data tunggal," pungkasnya.
Sebagai informasi, turut hadir dalam pertemuan tersebut Direktur Jenderal (Dirjen) Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri Teguh Setyabudi, Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini, dan Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Nashrul Wajdi.



