Nestapa Jemaah Hanania Travel: Rp 95 Juta Melayang, Mediasi Gagal
Nestapa Jemaah Hanania Travel: Rp 95 Juta Melayang

Langkah kaki Monica terasa berat saat berjalan keluar dari gedung Polda Metro Jaya, Kamis (28/5/2026). Perempuan asal Serang, Banten, itu datang dengan harapan besar yang akhirnya sirna. Ia bersama puluhan calon jemaah umrah lainnya menunggu hasil mediasi antara pimpinan Hanania Travel dan perwakilan jemaah. Namun, kabar buruk kembali mereka terima.

Mediasi Buntu, Janji Tak Terealisasi

“Sudah enggak bisa dimediasiin lagi kayaknya. Karena memang dia (pemilik travel) enggak bisa bayar,” ujar Monica kecewa. Ia kemudian menceritakan awal mula terjebak masalah ini. Semua berawal dari promosi Hanania Travel di media sosial yang tampak meyakinkan. Paket umrah reguler hingga paket plus Dubai dan Turki ditawarkan.

Monica dan suaminya memilih paket “Premium Pelataran” seharga Rp38,9 juta per paket. Mereka menambah Rp14 juta untuk upgrade kamar dan hampir Rp5 juta untuk fotografer pribadi. Total setoran mencapai Rp95,5 juta. Pendaftaran dilakukan Desember 2025, lunas Januari 2026. Menjelang keberangkatan 29 Maret 2026, visa sudah keluar.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kabar Gagal Berangkat dari Media Sosial

Petaka datang H-3. Bukan dari travel, Monica malah mengetahui dari media sosial bahwa jemaah jadwal 25-26 Maret gagal berangkat. Kekacauan terjadi di bandara. Monica bersyukur belum berangkat, namun syok mendadak.

“Kalau enggak cari tahu sendiri, aku enggak akan tahu kalau umrah aku gagal,” ungkapnya.

Bayang-Bayang First Travel

Monica dan jemaah lain sempat ragu melapor ke polisi karena khawatir nasib uang mereka seperti kasus First Travel. Mereka memilih jalur mediasi. Pertemuan besar di Ballroom Ciputra pada April lalu mempertemukan travel, jemaah, dan Kementerian Agama. Hanania Travel berjanji mengembalikan dana bertahap. Opsi refund, re-schedule, atau tetap diberangkatkan ditawarkan.

Jemaah Syawal (gagal Maret) dijanjikan pengembalian 30 persen paling lambat 29 Mei. Jumlah jemaah Maret sekitar 1.500 orang, belum termasuk jadwal Juni, Juli, Agustus.

Skema Gali Lubang Tutup Lubang

Menjelang tenggat, komitmen travel goyah. Hanya sedikit jemaah yang menerima refund, itupun tidak merata. Monica menduga uang jemaah disalahgunakan. “Dia itu ternyata gali lubang tutup lubang,” cetusnya. Biaya satu kelompok ditopang uang pendaftaran kelompok lain. Ketika macet, sistem runtuh.

Kini mediasi buntu, Monica dan ratusan jemaah hanya bisa berharap pada proses hukum di Polda Metro Jaya. “Berharap pelakunya diproses hukum, dan uang kita bisa balik,” pungkasnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga