Kecaman dari Partai Sendiri Usai Trump Teken Damai dengan Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuai kecaman dari partainya sendiri, Partai Republik, setelah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) damai dengan Iran. MoU yang ditandatangani secara jarak jauh oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu (17/6) waktu setempat ini mengakhiri permusuhan permanen di semua front, termasuk Lebanon, dan memulai gencatan senjata selama 60 hari.
Kesepakatan tersebut juga mencabut blokade AS terhadap Iran, memulihkan lalu lintas komersial di Selat Hormuz, membahas rencana rekonstruksi senilai US$ 300 miliar, dan pencabutan sanksi AS. Selain itu, MoU itu memungkinkan Teheran untuk bergabung kembali dalam perekonomian global jika memenuhi komitmen yang ditentukan.
Trump bersikeras bahwa MoU itu bukanlah cerminan kelemahannya, melainkan langkah untuk menggerakkan pasokan minyak guna menghindari depresi global. "Satu-satunya cara saya bisa bersikap lebih keras adalah jika saya masuk ke sana selama dua atau tiga minggu lagi dan terus membombardir mereka habis-habisan. Benar? Tetapi apa yang akan kita dapatkan? Selat Hormuz tidak akan dibuka. Kita tidak akan memiliki minyak selama berbulan-bulan. Ini adalah jenis hal yang dapat menyebabkan depresi di seluruh dunia," ujarnya.
Partai Republik Marah
Keputusan Trump berdamai dengan Iran disambut negatif oleh partainya. Sejumlah senator Partai Republik AS memperingatkan bahwa kesepakatan tersebut jauh dari kemenangan besar yang dijanjikan Trump dan bisa membuat Teheran lebih kaya, lebih kuat, dan masih mampu mengancam kawasan tersebut.
Senator Republik, Bill Cassidy menyebut kesepakatan itu "kesalahan kebijakan luar negeri terburuk dalam beberapa dekade." "Sebelum perang, selat itu terbuka, Iran dihancurkan oleh sanksi-sanksi dan 13 anggota militer masih hidup. Sekarang, 13 warga Amerika tewas, keluarga telah membayar miliaran dolar untuk bahan bakar, sanksi akan dicabut, dan bombardir telah berhenti," tulisnya di media sosial X.
Roger Wicker, ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat yang berpengaruh, menyebut MoU itu "sama sekali tidak sesuai" dengan tujuan Trump. Dia mengecam pencabutan sanksi dan pencairan dana "sebagai imbalan atas persetujuan Iran untuk bernegosiasi selama 60 hari lagi." "Secara khusus, dana US$300 miliar untuk rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran -- meskipun tidak didanai oleh pembayar pajak AS -- akan membuat pembayaran Iran berdasarkan kesepakatan Presiden Obama tahun 2015 terlihat seperti jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan," katanya.
Senator Texas, John Cornyn mengatakan kepada wartawan bahwa ia khawatir kesepakatan itu mungkin hanya "sekadar jeda," sehingga Iran dapat membangun kembali persenjataannya dan terus memperkaya uranium. Sementara itu, Partai Demokrat kompak menentang kesepakatan tersebut. Mereka berpendapat bahwa Trump melancarkan perang yang mahal hanya untuk menerima kesepakatan yang sebagian besar mengembalikan status quo sebelum perang, sambil memberikan pengaruh baru kepada Teheran.
"Semua orang yang membeli bukunya Trump 'The Art of the Deal' seharusnya meminta pengembalian dana karena apa yang telah dilakukan Trump di Iran adalah 'The Art of the Disaster'," cetus pemimpin Partai Demokrat di Senat, Chuck Schumer, dalam pidatonya di sidang pleno. Trump sendiri membela kesepakatan itu sebagai cara praktis untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar seperlima minyak mentah global. Ia mengatakan kesepakatan itu belum final, dan memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat melanjutkan serangan jika negosiasi gagal.



