Dugaan riset palsu yang dilakukan oleh sejumlah warga Indonesia di International Symposium on Public Policy and Development (ISPPD-14) di Kopenhagen, 17-21 Mei 2026, menjadi alarm baru bagi dunia akademik Indonesia. Jika benar terjadi fabrikasi data dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), yang dipertaruhkan bukan hanya etika akademik, melainkan juga kepercayaan publik terhadap ilmu pengetahuan.
Dampak Fabrikasi Data dengan AI
Ketika data, grafik, dan narasi ilmiah dapat dibuat tampak meyakinkan, publik semakin sulit membedakan mana riset yang sungguh dikerjakan dan mana yang hanya dikemas seolah-olah ilmiah. Beberapa informasi yang beredar menyebut dugaan pergantian identitas saat presentasi, klaim afiliasi yang meragukan, pencantuman nama penulis yang dipersoalkan, cakupan lokasi penelitian yang dinilai tidak lazim, serta data yang diduga dibuat-buat.
Etika Akademik Terancam
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya penegakan etika akademik di Indonesia. Penggunaan AI untuk memanipulasi data riset merupakan pelanggaran serius yang dapat merusak reputasi peneliti Indonesia di kancah internasional. Diperlukan langkah tegas dari institusi pendidikan dan pemerintah untuk menyelidiki dugaan ini dan mencegah terulangnya kasus serupa.
- Pergantian identitas saat presentasi
- Klaim afiliasi yang meragukan
- Pencantuman nama penulis yang dipersoalkan
- Cakupan lokasi penelitian yang tidak lazim
- Data yang diduga dibuat-buat
Kepercayaan publik terhadap ilmu pengetahuan harus dijaga. Oleh karena itu, transparansi dan akuntabilitas dalam setiap riset menjadi kunci utama. Masyarakat akademik Indonesia perlu bersatu untuk memastikan integritas penelitian tetap terjaga.



