KAJANG - Di usia 10 tahun, saat anak-anak seusianya masih duduk di bangku sekolah, Muhammad Faizal Nor Azman justru menghabiskan hari-harinya membantu ibunya berjualan kue di kawasan pusat komersial Bandar Seri Putra, Kajang, Malaysia. Kisah bocah ini menjadi perhatian publik setelah viral di media sosial Negeri Jiran dan memunculkan simpati luas karena ia masih sangat kecil namun tidak pernah mengenyam pendidikan formal.
Kisah Muhammad Faizal Nor Azman
Muhammad Faizal diketahui merupakan salah satu dari enam anak dari Derce Jush (37), ibu tunggal asal Flores, Indonesia, yang menjalani kehidupan penuh keterbatasan di Kajang. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, Derce harus berjuang seorang diri setelah suaminya, Nur Azman Baharudin, meninggal dunia sekitar setahun lalu.
Sejak ditinggal suami, Derce mengandalkan pendapatan dari berjualan kue untuk menghidupi keenam anaknya. Muhammad Faizal, sebagai anak sulung, merasa bertanggung jawab untuk membantu ibunya. Setiap hari, ia ikut berjualan di pinggir jalan, menawarkan kue kepada para pejalan kaki dan pengunjung pusat perbelanjaan.
Hidup Penuh Keterbatasan
Derce mengaku bahwa kehidupan mereka sangat sederhana. Ia tidak memiliki cukup biaya untuk menyekolahkan anak-anaknya. Muhammad Faizal pun tidak pernah mengenyam pendidikan formal sejak kecil. Meski demikian, bocah itu tetap ceria dan rajin membantu ibunya.
Kisah ini viral setelah seorang pengguna media sosial membagikan foto Muhammad Faizal yang sedang berjualan. Banyak netizen yang merasa iba dan memberikan dukungan moral serta bantuan materi. Beberapa pihak bahkan menawarkan beasiswa untuk pendidikan Muhammad Faizal.
Harapan untuk Masa Depan
Derce berharap ada bantuan dari pemerintah atau lembaga sosial agar anak-anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Ia ingin Muhammad Faizal dan adik-adiknya tidak mengalami nasib yang sama seperti dirinya yang putus sekolah.
Sementara itu, Muhammad Faizal mengaku senang bisa membantu ibunya. Ia berharap suatu hari nanti bisa bersekolah seperti anak-anak lainnya dan meraih cita-cita menjadi orang sukses.
Kisah ini menjadi pengingat akan pentingnya akses pendidikan bagi semua anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi. Dukungan dari berbagai pihak diharapkan dapat mengubah nasib Muhammad Faizal dan keluarganya.



