Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak mengungkapkan bahwa Jawa Timur menjadi provinsi penyumbang angka kematian jemaah haji tertinggi di Indonesia pada musim haji 2026. Data terbaru mencatat sebanyak 65 jemaah asal Jawa Timur meninggal dunia selama penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.
Penurunan Signifikan Dibanding Tahun Lalu
Dalam kunjungannya ke Asrama Haji Sukolilo Surabaya pada Jumat (12/6), Dahnil menyampaikan bahwa angka tersebut sebenarnya menunjukkan penurunan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada musim haji 2025, jumlah jemaah yang meninggal mencapai lebih dari 100 orang.
"Tahun lalu sudah 100 lebih, tapi tahun ini 65 orang. Meskipun demikian, angka ini masih menjadi yang tertinggi di Indonesia," ujar Dahnil.
Mayoritas Jemaah Memiliki Komorbid
Dahnil menjelaskan bahwa sebagian besar jemaah yang meninggal dunia memiliki riwayat penyakit penyerta atau komorbid, seperti gangguan pernapasan, pneumonia, dan penyakit jantung. Faktor usia, menurutnya, tidak bisa dijadikan patokan utama untuk menentukan kelayakan kesehatan seseorang.
"Kalau umur, ini debatable karena bukan ukuran. Ada bapak-bapak berusia 70 tahun yang sehat bugar, sementara yang berusia 40-50 tahun kadang sudah seperti 70 tahun," jelasnya.
Pemeriksaan Kesehatan Akan Diperketat
Menanggapi tingginya angka kematian tersebut, Dahnil menegaskan bahwa pihaknya akan memperketat penerapan istithaah kesehatan bagi calon jemaah haji ke depan. Pemeriksaan kesehatan di dalam negeri, khususnya terkait penyakit komorbid seperti jantung dan darah tinggi, akan menjadi fokus utama sebelum keberangkatan.
"Catatan untuk Jawa Timur ke depan memang harus kita perketat istithaah kesehatan. Pemeriksaan di dalam negeri akan lebih ketat, terutama untuk komorbid," tegasnya.
Komitmen Tingkatkan Pelayanan
Selain memperketat pemeriksaan kesehatan, Dahnil menyatakan komitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan bagi jemaah haji Indonesia di Tanah Suci. "PR kami tentu adalah terus meningkatkan pelayanan," pungkasnya.



