Wamendiktisaintek Ajak Kampus Kelola Sampah Berbasis Riset dan Teknologi
Wamendiktisaintek Ajak Kampus Kelola Sampah Berbasis Riset

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mengajak seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk turut serta mengatasi masalah sampah nasional melalui hilirisasi riset dan teknologi. Ajakan ini disampaikan saat ia meninjau fasilitas Sustainable Waste Solution Center (SWSC) milik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar di Sulawesi Selatan.

Persoalan Sampah Jadi Perhatian Nasional

Menurut Fauzan, persoalan sampah saat ini menjadi perhatian nasional dan tantangan di berbagai daerah. Kampus sebagai pusat ilmu pengetahuan dan inovasi diharapkan dapat mengambil peran dalam menghadirkan solusi melalui riset dan teknologi. "Persoalan sampah saat ini menjadi perhatian nasional dan menjadi tantangan di berbagai daerah di Indonesia. Karena itu, kampus sebagai pusat ilmu pengetahuan dan inovasi diharapkan dapat mengambil peran dalam menghadirkan solusi melalui riset dan teknologi," ujar Fauzan, melansir Antara, Rabu (24/6/2026).

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup, total timbulan sampah di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2024 mencapai 1,21 juta ton. Fauzan menekankan bahwa pengelolaan sampah berbasis riset dapat membantu mengurangi jumlah sampah secara substansial. "Yang paling penting adalah bagaimana sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi dapat diolah menjadi produk yang lebih fungsional dan bernilai guna. Inilah wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan," kata dia.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Unismuh Makassar dan Inovasi SWSC

Fauzan memberikan apresiasi kepada Unismuh Makassar yang dinilai berhasil mengembangkan model pengelolaan sampah yang memiliki nilai tambah dan potensi kebermanfaatan bagi masyarakat. Unismuh mengembangkan inovasi pengolahan sampah berbasis metode SWSC, yang mencakup pemilahan sampah dari sumbernya, penguatan bank sampah, pengurangan plastik sekali pakai, pengolahan sampah organik melalui komposter dan maggot, serta pengembangan produk kreatif dari sampah anorganik.

Melalui sistem tersebut, sampah tidak lagi dipahami sebagai beban akhir, tetapi bagian dari ekonomi sirkular yang dapat memberi manfaat ekologis dan ekonomi. Sistem pemilahan sampah sejak dari sumbernya diterapkan baik di fakultas, lembaga, asrama, maupun unit-unit kerja di lingkungan kampus. Sampah dipilah berdasarkan jenisnya, seperti sampah organik, anorganik, residu, dan bahan berbahaya dan beracun (B3), sehingga volume sampah yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir dapat diminimalkan.

Produk Bernilai dari Sampah Organik dan Anorganik

Sampah organik diolah menjadi berbagai produk bernilai guna, seperti kompos, eco-enzyme, pakan maggot, hingga sabun dan lilin berbahan dasar minyak jelantah. Sementara itu, sampah anorganik dikelola melalui mekanisme bank sampah yang melibatkan sivitas akademika sebagai nasabah dan didukung kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar. Berbagai produk hasil daur ulang, seperti ecobrick, kerajinan berbahan plastik dan kertas bekas, hingga lilin dari minyak jelantah, menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah dapat menghasilkan nilai tambah sekaligus menumbuhkan budaya keberlanjutan di lingkungan kampus.

Selain berfungsi sebagai pusat pengelolaan sampah, fasilitas SWSC juga menjadi sarana edukasi lingkungan bagi mahasiswa melalui keterlibatan relawan yang tergabung dalam Eco Ranger. Dengan demikian, kampus tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga agen perubahan dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga