LONDON, KOMPAS.com - Hilangnya keanekaragaman hayati selama ini lebih sering dipandang sebagai masalah lingkungan. Namun, sebuah studi internasional terbaru menunjukkan dampaknya dapat menjalar jauh hingga ke sektor keuangan dan bahkan mengancam kemampuan negara membayar utang.
Penelitian Ungkap Dampak Ekonomi
Penelitian yang dipimpin para ekonom dari University of Sussex, University of Sheffield, dan Heriot-Watt University di Inggris memperingatkan bahwa kerusakan ekosistem berpotensi menurunkan peringkat kredit sejumlah negara, termasuk Indonesia. Studi yang dipublikasikan pada Jumat (5/6/2026) itu memperkenalkan model pemeringkatan kredit negara pertama di dunia yang memasukkan faktor keanekaragaman hayati ke dalam perhitungan risiko keuangan.
Implikasi bagi Negara Berkembang
Model ini menunjukkan bahwa negara-negara dengan keanekaragaman hayati tinggi, seperti Indonesia, menghadapi risiko penurunan peringkat kredit jika kerusakan ekosistem terus berlanjut. Hal ini dapat meningkatkan biaya pinjaman dan mempersulit pembiayaan pembangunan.
Para peneliti menekankan pentingnya memasukkan faktor lingkungan dalam analisis risiko keuangan. Mereka berharap temuan ini mendorong investor dan lembaga pemeringkat untuk mempertimbangkan aspek biodiversitas dalam keputusan investasi.
Solusi dan Rekomendasi
Studi ini merekomendasikan langkah-langkah mitigasi, seperti perlindungan ekosistem dan restorasi habitat, untuk mengurangi risiko keuangan. Dengan menjaga keanekaragaman hayati, negara dapat memperkuat stabilitas ekonomi dan mencegah dampak negatif pada peringkat kredit.



