Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto secara resmi membuka Program Kepala Desa Masuk Kampus Angkatan I bertajuk 'Pemerintahan Desa Berdampak' di Balai Purnomo, Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, pada Selasa (30/6/2026). Program ini digagas oleh Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai wadah kolaborasi antara pemerintah desa dan perguruan tinggi untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan serta tata kelola pemerintahan desa.
Kolaborasi Strategis untuk Tata Kelola Desa Adaptif
Dalam sambutannya, Bima Arya menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah desa dan perguruan tinggi merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas kepala desa dalam menghadapi tantangan pembangunan yang semakin kompleks. Menurutnya, pengalaman kepala desa di lapangan perlu dipadukan dengan ilmu pengetahuan dan riset akademik agar mampu melahirkan tata kelola pemerintahan desa yang lebih adaptif dan berdampak bagi masyarakat.
Bima mengapresiasi Universitas Indonesia yang telah membuka ruang kolaborasi bagi para kepala desa. Ia menekankan bahwa pemimpin saat ini tidak lagi cukup hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga harus mampu menyusun kebijakan berdasarkan data dan didukung kajian ilmiah. "Pemimpin harus berbasis data. Karena pemimpin itu harus punya konsep yang kuat, makanya setiap pemimpin harus dibantu oleh kampus, lembaga penelitian, atau lembaga pendidikan," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Tantangan Kompleks dan Pentingnya Budaya Belajar
Bima Arya menjelaskan bahwa kepala desa kini menghadapi tantangan pembangunan yang jauh lebih kompleks. Selain dituntut mampu menyusun kebijakan berbasis data, mereka juga perlu meningkatkan kualitas sumber daya manusia, menguasai perkembangan teknologi, serta mampu merespons berbagai isu strategis seperti perubahan iklim, bonus demografi, dan ketahanan pangan. Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya budaya belajar bagi setiap kepala desa. Menurutnya, pemimpin yang berhenti belajar akan kesulitan mengikuti dinamika pembangunan yang terus berkembang.
Pendekatan Baru: Desa sebagai Mitra, Bukan Objek
Lebih lanjut, Bima menjelaskan bahwa Program Kepala Desa Masuk Kampus menghadirkan pendekatan baru dalam hubungan antara desa dan perguruan tinggi. Desa tidak lagi diposisikan sebagai objek pendampingan, melainkan sebagai mitra yang bersama-sama membangun pengetahuan. "Hari ini adalah kolaborasi dan kokreasi. Desa dan kampus sama-sama belajar, bertukar informasi, bertukar perspektif tentang teknologi, tata kelola, dan pemanfaatannya," katanya.
Ia menilai kolaborasi tersebut akan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Desa memperoleh akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, serta pendampingan untuk meningkatkan kapasitas pemerintahan. Sementara itu, perguruan tinggi mendapatkan laboratorium nyata untuk mengembangkan kajian dan inovasi pembangunan desa.
Kepala Desa sebagai Pahlawan Lokal
Di akhir sambutannya, Bima Arya menyebut para kepala desa sebagai local heroes yang menjadi motor penggerak pembangunan di tingkat akar rumput. Ia berharap pengalaman dan inovasi yang lahir dari desa dapat menjadi inspirasi sekaligus bahan pembelajaran bagi dunia akademik. "Kalau mereka masih berinovasi, mereka masih [meng]inspirasi, mereka itu real heroes ... Silakan Pak Rektor angkat cerita kepahlawanan mereka itu supaya jadi bahan pembelajaran di kelas," pungkasnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Rektor UI Heri Hermansyah, Wakil Rektor Bidang Infrastruktur dan Fasilitas UI Agus Setiawan, Direktur Jenderal Bina Pemerintahan Desa Kemendagri La Ode Ahmad P. Bolombo, para kepala desa peserta program, civitas academica UI, serta jajaran Kemendagri.



