Universitas Brawijaya (UB) baru-baru ini mengumumkan penerimaan sembilan siswa asal daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) untuk tahun akademik 2026. Penerimaan ini menandai komitmen perguruan tinggi negeri di Malang, Jawa Timur, dalam mendukung pemerataan akses pendidikan tinggi di Indonesia.
Proses Seleksi Tanpa Jalur Khusus
Wakil Rektor Bidang Akademik UB, Prof. Dr. Aulanni'am, secara tegas menyatakan bahwa tidak ada jalur seleksi khusus bagi calon mahasiswa dari daerah 3T. "Penerimaan sembilan siswa ini dilakukan melalui mekanisme reguler yang telah ditetapkan oleh pemerintah, khususnya program afirmasi pendidikan," ujarnya dalam keterangan resmi yang dirilis pada awal April 2026.
Prof. Aulanni'am menambahkan bahwa proses seleksi tetap mengutamakan prinsip meritokrasi, di mana kemampuan akademik dan potensi siswa menjadi faktor penentu utama. Namun, program afirmasi memungkinkan kuota tertentu bagi pelajar dari wilayah yang secara geografis dan infrastruktur mengalami keterbatasan.
Dukungan dan Fasilitas bagi Mahasiswa Baru
Kedatangan sembilan mahasiswa baru ini disambut dengan berbagai program pendukung dari universitas. UB telah menyiapkan skema bantuan yang mencakup:
- Bantuan biaya hidup dan akomodasi selama masa studi.
- Program mentoring akademik untuk memastikan adaptasi dengan lingkungan kampus.
- Konseling psikologis guna mengatasi tantangan budaya dan sosial.
- Akses ke fasilitas perpustakaan dan laboratorium tanpa batas.
"Kami berkomitmen untuk tidak hanya menerima, tetapi juga memastikan keberhasilan akademik mereka. Ini adalah bagian dari tanggung jawab sosial UB dalam membangun sumber daya manusia dari seluruh penjuru Indonesia," tegas Prof. Aulanni'am.
Respons Positif dari Berbagai Pihak
Kebijakan ini mendapatkan apresiasi dari komunitas pendidikan dan organisasi masyarakat. Sejumlah pengamat menilai langkah UB sebagai contoh nyata implementasi kebijakan afirmatif yang transparan dan berkelanjutan.
Di sisi lain, orang tua siswa menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan. "Anak saya berasal dari daerah terpencil di Papua. Dengan adanya program seperti ini, mimpi untuk kuliah di universitas ternama menjadi kenyataan," ungkap salah satu orang tua yang tidak ingin disebutkan namanya.
Universitas Brawijaya berharap inisiatif ini dapat diikuti oleh perguruan tinggi lain, sehingga semakin banyak pelajar dari daerah 3T yang mendapatkan akses pendidikan berkualitas. Dengan demikian, cita-cita pemerataan pendidikan di Indonesia dapat terwujud secara bertahap dan inklusif.



