China Hapus 12.200 Prodi Usang, Ganti dengan AI dan Teknologi
China Hapus 12.200 Prodi Usang, Ganti dengan AI

KOMPAS.com - Universitas-universitas di China melakukan perombakan besar dalam lima tahun terakhir dengan menghapus 12.200 program studi yang dianggap usang dan menggantinya dengan program studi baru yang fokus ke teknologi, termasuk AI (Artificial Intelligence). Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya untuk menyelaraskan pendidikan tinggi dengan tujuan pembangunan nasional, sebagaimana dilansir South China Morning Post, Selasa (16/6/2026).

Penyesuaian Program Studi di China

Dari tahun 2021 hingga 2025, data Kementerian Pendidikan China menunjukkan sebanyak 12.200 program gelar sarjana sudah ditangguhkan, sementara 10.200 program baru diperkenalkan. Artinya, lebih dari 30 persen program universitas di Negeri Bambu mengalami penyesuaian. Perombakan ini dilakukan secara bertahap untuk memastikan kualitas pendidikan tetap terjaga.

Fokus pada Teknologi dan AI

Program studi baru yang diperkenalkan sebagian besar berorientasi pada teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), data sains, dan bidang terkait lainnya. Hal ini sejalan dengan visi China untuk menjadi pemimpin global di bidang teknologi. Pemerintah China mendorong universitas untuk berinovasi dalam kurikulum agar lulusan siap menghadapi tantangan industri masa depan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Langkah ini juga merupakan respons terhadap perubahan kebutuhan pasar tenaga kerja. Dengan menghapus program yang dianggap usang, China berharap dapat mengurangi kesenjangan antara keterampilan lulusan dan permintaan industri. Program studi yang dihapus termasuk bidang-bidang yang kurang relevan dengan perkembangan ekonomi digital.

Reformasi ini tidak hanya berdampak pada institusi pendidikan, tetapi juga pada mahasiswa dan dosen. Mahasiswa yang terdaftar di program yang dihapus diberikan opsi untuk beralih ke program baru atau menyelesaikan studi mereka dalam waktu yang ditentukan. Sementara itu, dosen didorong untuk mengembangkan keahlian di bidang teknologi agar dapat mengajar program-program baru.

Kebijakan ini menuai berbagai tanggapan. Sebagian pihak mendukung langkah modernisasi ini, namun ada juga yang khawatir tentang hilangnya program studi tradisional yang memiliki nilai budaya. Meskipun demikian, pemerintah China menegaskan bahwa penyesuaian ini penting untuk mempertahankan daya saing global.

Dengan adanya perubahan ini, China berharap dapat mencetak lebih banyak tenaga ahli di bidang teknologi dan AI, yang pada gilirannya akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan inovasi nasional.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga