Ashanty Ungkap Perjuangan Berat Hampir Menyerah Sebelum Menyelesaikan Disertasi S3 di Unair
Penyanyi dan selebriti ternama Indonesia, Ashanty, baru-baru ini membagikan pengalaman emosionalnya dalam perjalanan akademik yang penuh tantangan. Ia mengaku hampir menyerah sebelum berhasil menyelesaikan program doktoral atau S3 di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Kisah ini mengungkap sisi lain dari kehidupan Ashanty yang jarang terekspos, di balik gemerlap dunia hiburan.
Judul Disertasi yang Mengangkat Isu Kesehatan Mental
Dalam pernyataannya, Ashanty mengungkap bahwa disertasinya berjudul "Pengaruh Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Remaja di Era Digital". Topik ini dipilihnya karena keprihatinan mendalam terhadap dampak negatif platform online pada generasi muda, terutama dalam konteks tekanan psikologis dan gangguan emosional. Ia menekankan bahwa penelitian ini bukan sekadar tugas akademik, tetapi juga bentuk kontribusi nyata untuk masyarakat.
Ashanty menjelaskan bahwa proses penyusunan disertasi tersebut memakan waktu bertahun-tahun dan diwarnai dengan berbagai kendala. "Saya sempat berpikir untuk berhenti, karena beban mental dan fisiknya sangat besar. Selain harus membagi waktu antara karir di dunia hiburan dan keluarga, tantangan akademik seperti riset data dan analisis juga cukup menyita energi," ujarnya. Namun, dukungan dari keluarga, terutama suaminya, Anang Hermansyah, serta bimbingan dosen pembimbing di Unair, akhirnya membantunya bertahan.
Faktor yang Hampir Membuatnya Menyerah
Beberapa faktor utama yang hampir membuat Ashanty menyerah dalam menyelesaikan S3 di Unair antara lain:
- Tekanan Waktu: Jadwal padat sebagai selebriti dan ibu rumah tangga sering berbenturan dengan deadline akademik.
- Kompleksitas Riset: Topik kesehatan mental remaja di era digital memerlukan pendekatan multidisiplin dan analisis mendalam.
- Keseimbangan Hidup: Menjaga keseimbangan antara tanggung jawab pribadi, profesional, dan akademik menjadi tantangan tersendiri.
Meski demikian, Ashanty menegaskan bahwa pengalaman ini justru memperkuat tekadnya untuk terus berkontribusi dalam bidang pendidikan dan kesehatan. "Ini bukan hanya tentang gelar doktor, tetapi tentang bagaimana kita bisa memberi manfaat lebih luas melalui ilmu yang dipelajari," tambahnya. Ia berharap kisahnya dapat menginspirasi banyak orang, terutama wanita, untuk tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita akademik.
Dampak Positif dari Perjuangan Tersebut
Setelah berhasil melewati masa-masa sulit, Ashanty merasa bahwa perjuangan ini membawa dampak positif yang signifikan. Ia menjadi lebih memahami pentingnya kesehatan mental, tidak hanya bagi remaja tetapi juga bagi dirinya sendiri. Selain itu, gelar S3 dari Unair ini diharapkan dapat membuka peluang baru dalam karirnya, mungkin dalam bentuk kampanye sosial atau program edukasi terkait isu kesehatan mental.
Universitas Airlangga, sebagai institusi pendidikan tinggi terkemuka di Indonesia, juga mendapat pujian dari Ashanty atas dukungan yang diberikan selama proses studi. Ia menyebut bahwa fasilitas dan bimbingan akademik di Unair sangat membantu dalam menyelesaikan disertasinya dengan baik.
Secara keseluruhan, kisah Ashanty ini mengingatkan kita bahwa di balik kesuksesan, seringkali ada perjuangan berat yang harus dihadapi. Dengan ketekunan dan dukungan dari lingkungan sekitar, hambatan apapun dapat diatasi, termasuk dalam dunia akademik yang penuh tantangan.



