Kasatgas Tito: Rehabilitasi 4.863 Sekolah Pascabencana Sumatera Dipercepat
Rehabilitasi 4.863 Sekolah Pascabencana Sumatera Dipercepat

Kasatgas Tito: Rehabilitasi Sekolah Pascabencana Sumatera Dipercepat, Ribuan Fasilitas Pendidikan Terdampak

Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa pemerintah secara intensif mempercepat proses rehabilitasi sarana dan prasarana pendidikan di daerah-daerah yang terdampak banjir akibat Siklon Senyar. Upaya ini bertujuan agar kegiatan belajar mengajar di 52 kabupaten dan kota yang terdampak di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dapat segera kembali berjalan normal tanpa hambatan yang signifikan.

Ribuan Sekolah Rusak, Data Terus Direkonsiliasi

Dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Gedung Sasana Bhakti Praja, Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, pada Rabu, 11 Februari 2026, Tito mengungkapkan bahwa total sekolah yang terdampak mencapai angka 4.863 unit. Rincian kerusakan menunjukkan bahwa 3.409 sekolah mengalami kerusakan ringan, 925 sekolah rusak sedang, 437 sekolah rusak berat, dan 92 sekolah bahkan memerlukan relokasi karena kondisi yang parah. "Kemudian untuk fasilitas pendidikan, kita lihat memang banyak yang cukup terdampak. Baik PAUD, TK, SD, SMP, SMA, juga madrasah dan pondok pesantren di beberapa tempat," jelas Tito dengan nada serius.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menambahkan bahwa proses pendataan kerusakan sekolah masih terus dilakukan melalui rekonsiliasi data yang melibatkan Dinas Pendidikan di tingkat kabupaten, kota, dan provinsi. Hal ini penting untuk memastikan akurasi informasi dan penyaluran bantuan yang tepat sasaran.

Puluhan Ribu Personel Dikerahkan, Sekolah Kedinasan Turut Berperan

Sejak masa tanggap darurat, pemerintah telah menerjunkan sebanyak 90.109 personel dari berbagai kementerian dan lembaga, termasuk Kemendagri, Unhan Kemenhan, TNI, Polri, BNPB, Basarnas, Kementerian PU, Kemendiktisaintek, serta sekolah-sekolah kedinasan. Keterlibatan sekolah kedinasan dilakukan melalui kegiatan yang mirip dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN), yang bertujuan untuk mendukung pemulihan di lapangan secara langsung. "Ada sekolah-sekolah kedinasan yang ditugaskan untuk melakukan kegiatan semacam KKN-lah gitu, Kuliah Kerja Nyata. Dari Unhan Kemenhan, kemudian juga dari IPDN Kemendagri, kemudian dari [STIS] Badan Pusat Statistik," ujar Tito dengan penuh semangat.

Perbaikan fasilitas pendidikan ini dianggap sebagai kunci utama untuk mengembalikan kegiatan belajar mengajar ke kondisi optimal. Di Provinsi Sumatera Barat, layanan pendidikan telah berjalan secara fungsional seiring dengan percepatan perbaikan sarana dan prasarana sekolah yang terdampak. Sementara itu, di Provinsi Sumatera Utara, masih terdapat sejumlah fasilitas pendidikan yang memerlukan atensi lanjutan, termasuk sekolah umum dan fasilitas pendidikan keagamaan seperti madrasah dan pondok pesantren, serta rumah ibadah yang turut terdampak.

Dukungan Komprehensif dari Kemendikdasmen

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menyalurkan berbagai bentuk dukungan untuk mempercepat pemulihan sektor pendidikan, antara lain:

  • School kit untuk kebutuhan belajar siswa.
  • Ruang kelas darurat sebagai pengganti sementara.
  • Buku pembelajaran untuk mendukung kurikulum.
  • Tunjangan khusus bagi guru yang terdampak bencana.
  • Dukungan psikososial untuk siswa dan tenaga pendidikan.
  • Revitalisasi sekolah yang rusak.
  • Dana operasional pendidikan darurat.

Pemulihan sektor pendidikan ini diharapkan tidak hanya mempercepat normalisasi kegiatan belajar mengajar, tetapi juga mendukung percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di wilayah Sumatera secara keseluruhan. Dengan upaya terpadu ini, pemerintah berkomitmen untuk memastikan bahwa hak pendidikan anak-anak di daerah terdampak tetap terpenuhi meskipun menghadapi tantangan pascabencana yang berat.