99 Sekolah di Sumatera Masih Belajar di Tenda dan Kelas Darurat Pascabencana
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyatakan bahwa proses belajar mengajar di tiga provinsi terdampak bencana, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, telah kembali berjalan 100%. Namun, ia mengakui bahwa kegiatan pembelajaran belum sepenuhnya berlangsung secara ideal setelah bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut.
Dalam rapat bersama pimpinan DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu (18/2/2026), Abdul Mu'ti menjelaskan, "Kami sampaikan secara umum bahwa kegiatan pembelajaran di tiga provinsi terdampak bencana sudah berlangsung 100%, hanya saja memang pembelajaran belum berlangsung secara ideal."
Kondisi Pembelajaran yang Belum Ideal
Abdul Mu'ti mengungkapkan bahwa sebagian sekolah masih harus menggunakan fasilitas darurat. "Sebagian masih belajar di tenda atau di kelas darurat dan sebagian menumpang di sekolah lain," sambungnya. Secara rinci, ia menyebutkan bahwa dari total sekolah yang terdampak, sebanyak 99 sekolah masih belajar di tenda atau kelas darurat, dengan rincian 52 di Aceh, 21 di Sumatera Barat, dan 26 di Sumatera Utara.
Selain itu, terdapat sekolah yang menumpang di sekolah lain, yaitu 20 sekolah di Aceh dan 2 sekolah di Sumatera Barat. Mu'ti menambahkan, "Kami sampaikan bahwa belajar di tenda atau kelas darurat saat ini tersisa 99, sebagian sudah kembali ke sekolah asal karena proses pembersihan sudah selesai. Sisanya merupakan sekolah yang kondisinya ruang kelasnya sudah tidak bisa digunakan."
Data Kerusakan Infrastruktur Sekolah
Abdul Mu'ti juga memaparkan data kerusakan sekolah di ketiga provinsi tersebut berdasarkan hasil verifikasi dan validasi:
- Aceh: Dari 3.073 sekolah terdampak, 2.516 telah diverifikasi. Sebanyak 885 sekolah (35,15%) mengalami rusak ringan, 1.382 sekolah (54,88%) rusak sedang, 188 sekolah (7,47%) rusak berat, dan 63 sekolah (2,50%) harus direlokasi.
- Sumatera Barat: Dari 649 sekolah terdampak, 500 telah diverifikasi. Rinciannya, 217 sekolah (43,44%) rusak ringan, 255 sekolah (51%) rusak sedang, 13 sekolah (2,60%) rusak berat, dan 15 sekolah (3%) perlu relokasi.
- Sumatera Utara: Dari 1.130 sekolah terdampak, 1.087 telah diverifikasi. Sebanyak 594 sekolah (54,65%) rusak ringan, 524 sekolah (39,01%) rusak sedang, 84 sekolah (5,89%) rusak berat, dan 5 sekolah (0,46%) harus direlokasi.
Tantangan dalam Proses Pembelajaran
Abdul Mu'ti mengakui bahwa proses belajar belum sepenuhnya ideal. Beberapa tantangan yang dihadapi termasuk penggunaan shift pagi dan siang, serta belum tersedianya meja kursi secara keseluruhan. "Sebagian masih belajar di lantai. Kemudian kurikulum pembelajaran kami menggunakan kurikulum darurat," tuturnya.
Ia juga menyebutkan bahwa untuk wilayah Tapanuli Tengah, koordinasi dengan dinas pendidikan setempat masih berlangsung, sehingga belum ada perkembangan terbaru yang dapat dilaporkan. Hal ini menunjukkan kompleksitas pemulihan pendidikan pascabencana yang memerlukan kerja sama berbagai pihak.
Dengan kondisi ini, pemerintah terus berupaya untuk memulihkan infrastruktur sekolah agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali normal. Namun, proses tersebut masih membutuhkan waktu dan sumber daya yang signifikan, mengingat skala kerusakan yang cukup luas di ketiga provinsi tersebut.



