Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia 2026: Rabat, Maroko Jadi Ibu Kota Buku Dunia
Jakarta - Buku sering disebut sebagai jendela dunia, menghadirkan pengalaman baru melalui setiap halaman yang dibuka. Setiap tahun, pada tanggal 23 April, UNESCO merayakan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia atau World Book and Copyright Day. Perayaan ini mengakui peran buku sebagai penghubung lintas generasi dan budaya, sekaligus mempromosikan pentingnya literasi dan perlindungan hak cipta secara global.
Rabat Ditetapkan sebagai Ibu Kota Buku Dunia 2026
Sebagai bagian dari perayaan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia, UNESCO bersama organisasi internasional di industri buku memilih sebuah kota sebagai Ibu Kota Buku Dunia. Untuk tahun 2026, kota yang terpilih adalah Rabat di Maroko. Penetapan ini diumumkan oleh Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, berdasarkan rekomendasi dari Komite Penasihat Ibu Kota Buku Dunia.
Rabat dipilih karena komitmennya yang kuat dalam:
- Pengembangan literasi dan pemberantasan buta huruf, terutama di kalangan masyarakat kurang mampu.
- Pemberdayaan perempuan dan kaum muda melalui program membaca.
- Mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dengan meningkatkan akses terhadap buku dan mendukung industri penerbitan lokal.
Rangkaian perayaan akan dimulai pada tanggal 23 April 2026, bertepatan dengan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia, dengan serangkaian inisiatif untuk memperkuat literasi seluruh warga.
Sejarah dan Tujuan Program Ibu Kota Buku Dunia
Program Ibu Kota Buku Dunia diluncurkan oleh UNESCO pada tahun 2001, dengan Madrid, Spanyol sebagai kota pertama yang ditetapkan. Hingga saat ini, telah ada 26 kota yang terpilih, termasuk Rabat untuk tahun 2026. Tujuan utama program ini adalah:
- Mendorong literasi dan pembelajaran sepanjang hayat di seluruh dunia.
- Melindungi hak cipta dan kebebasan berekspresi dalam industri buku.
- Mengintegrasikan literasi ke dalam kebijakan publik untuk memastikan kesempatan setara dalam membaca dan menulis.
Buku dianggap sebagai alat ampuh untuk berpikir kritis, refleksi, dan emansipasi, yang dapat menjembatani berbagai zaman dan budaya. UNESCO percaya bahwa membaca adalah hak penting yang harus dinikmati oleh setiap orang.
Dampak dan Contoh Kota Terdahulu
Kota-kota yang pernah menjadi Ibu Kota Buku Dunia telah menunjukkan dampak positif dalam transformasi sosial dan budaya. Misalnya, Medellín di Kolombia, yang ditunjuk sebagai Ibu Kota Buku Dunia 2027, menjadi rujukan internasional untuk perubahan perkotaan di mana buku dan perpustakaan berperan penting dalam membangun perdamaian dan kohesi sosial.
Program ini sejalan dengan visi UNESCO untuk memanfaatkan buku sebagai sumber kreativitas dan pembelajaran, mendukung pembangunan berkelanjutan dan inklusif di berbagai negara.
Dengan penetapan Rabat sebagai Ibu Kota Buku Dunia 2026, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran global akan pentingnya literasi dan hak cipta, serta menginspirasi lebih banyak kota untuk berkomitmen pada pengembangan budaya baca.



