Rektor UNS: Penutupan Prodi Tak Boleh Hanya Berdasar Kebutuhan Industri
Rektor UNS: Penutupan Prodi Tak Hanya Berdasar Industri

Rektor UNS Kritisi Wacana Penutupan Prodi Berdasarkan Kebutuhan Industri

Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Jamal Wiwoho, memberikan tanggapan kritis terhadap wacana penutupan program studi (prodi) yang hanya didasarkan pada kebutuhan industri. Menurutnya, kebutuhan industri bukanlah satu-satunya faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan keberlangsungan suatu prodi.

Pertimbangan Akademik dan Strategis

Prof. Jamal menekankan bahwa universitas memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan mencetak sumber daya manusia yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu berpikir kritis dan inovatif. Oleh karena itu, penutupan prodi harus mempertimbangkan aspek akademik, seperti kualitas penelitian, relevansi kurikulum, dan kontribusi terhadap pengembangan keilmuan.

Selain itu, aspek strategis seperti potensi pengembangan prodi di masa depan dan peran prodi dalam mendukung visi institusi juga perlu diperhitungkan. Jangan sampai prodi ditutup hanya karena tidak sesuai dengan permintaan pasar saat ini, padahal memiliki nilai jangka panjang yang penting.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kebutuhan Industri Bukan Satu-Satunya Patokan

Rektor UNS mengingatkan bahwa kebutuhan industri bersifat dinamis dan dapat berubah seiring waktu. Jika universitas hanya mengikuti tren pasar, dikhawatirkan akan terjadi ketidakseimbangan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Ia mencontohkan prodi-prodi di bidang humaniora dan ilmu sosial yang mungkin tidak langsung diminati industri, tetapi memiliki peran krusial dalam membentuk karakter dan pemikiran mahasiswa.

Lebih lanjut, Prof. Jamal menyatakan bahwa universitas harus mampu memprediksi kebutuhan masa depan, bukan sekadar merespons kebutuhan saat ini. Oleh karena itu, evaluasi prodi harus dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk akademisi, mahasiswa, alumni, dan mitra industri.

Kolaborasi dengan Industri Tetap Diperlukan

Meskipun demikian, Rektor UNS tidak menampik pentingnya kolaborasi dengan industri. Ia justru mendorong agar universitas menjalin kemitraan yang erat dengan dunia usaha dan industri untuk menyelaraskan kurikulum dan penelitian dengan kebutuhan nyata. Namun, kolaborasi ini harus bersifat saling menguntungkan dan tidak membuat universitas kehilangan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan yang independen.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Jamal juga mengapresiasi kebijakan pemerintah yang mendorong link and match antara pendidikan tinggi dan industri, tetapi ia berharap kebijakan tersebut tidak diinterpretasikan secara sempit. Penutupan prodi harus menjadi langkah terakhir setelah berbagai upaya perbaikan dan pengembangan dilakukan.

Dampak Terhadap Mahasiswa dan Dosen

Penutupan prodi juga akan berdampak langsung pada mahasiswa dan dosen. Oleh karena itu, universitas harus menyiapkan skema transisi yang jelas, seperti alih prodi atau penyelesaian studi bagi mahasiswa yang terdampak, serta redistribusi dosen ke prodi lain. UNS sendiri telah memiliki mekanisme evaluasi prodi yang ketat dan melibatkan berbagai pihak untuk meminimalisir dampak negatif.

Dengan pernyataan ini, Rektor UNS berharap agar wacana penutupan prodi tidak hanya didasarkan pada kebutuhan industri, tetapi juga mempertimbangkan aspek akademik, strategis, dan dampak sosial yang lebih luas.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga