Rektor UM Pilih Kajian Ilmiah soal Dapur MBG, Bukan Bangun Fisik
Rektor UM Pilih Kajian Ilmiah soal Dapur MBG

Rektor Universitas Negeri Malang (UM) memutuskan untuk tidak ikut serta dalam pembangunan fisik dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digalakkan pemerintah. Sebagai gantinya, ia memilih untuk melakukan kajian ilmiah mendalam mengenai program tersebut. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan peran universitas sebagai lembaga akademik yang lebih fokus pada penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Fokus pada Kajian Ilmiah

Menurut Rektor UM, keterlibatan universitas dalam program MBG sebaiknya tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga intelektual. Dengan melakukan kajian ilmiah, universitas dapat memberikan masukan berbasis data dan riset yang komprehensif. Hal ini dinilai lebih bermanfaat dalam jangka panjang dibandingkan sekadar membangun infrastruktur.

Kajian ilmiah tersebut akan mencakup aspek gizi, efektivitas program, dampak sosial, dan keberlanjutan. Hasil kajian diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengoptimalkan program MBG.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Alasan di Balik Keputusan

Rektor menjelaskan bahwa universitas memiliki sumber daya manusia yang mumpuni di bidang gizi, kesehatan masyarakat, dan kebijakan publik. Oleh karena itu, kontribusi terbaik yang bisa diberikan adalah melalui penelitian yang dapat memperkuat dasar ilmiah program MBG. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara akademisi dan praktisi untuk mencapai hasil yang optimal.

Keputusan ini mendapat dukungan dari sejumlah dosen dan peneliti di UM. Mereka menilai bahwa pendekatan ilmiah lebih relevan dengan tugas pokok perguruan tinggi, yaitu tridharma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Tanggapan Pemerintah

Pemerintah menyambut baik inisiatif UM untuk melakukan kajian ilmiah. Program MBG sendiri merupakan salah satu program prioritas yang bertujuan meningkatkan status gizi masyarakat, terutama anak-anak sekolah. Dengan adanya kajian dari akademisi, diharapkan program ini dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.

Beberapa pihak lain juga mengapresiasi langkah UM karena dinilai lebih strategis. Mereka berharap universitas lain dapat mengikuti jejak serupa, sehingga program MBG tidak hanya mendapat dukungan fisik, tetapi juga intelektual.

Ke depannya, UM berencana untuk mempublikasikan hasil kajian tersebut agar dapat diakses oleh publik dan menjadi bahan evaluasi bersama. Dengan demikian, kontribusi universitas dalam pembangunan bangsa tidak hanya terbatas pada pembangunan fisik, tetapi juga pengembangan ilmu pengetahuan yang berkelanjutan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga