Perguruan Tinggi Wajib Evaluasi, Prodi Tak Sesuai Kebutuhan Industri Bakal Ditutup
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tengah menyiapkan langkah evaluasi menyeluruh terhadap program studi (prodi) di perguruan tinggi. Penutupan prodi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan. Langkah ini diambil untuk menekan ketidaksesuaian antara lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan pasar kerja.
Evaluasi Prodi untuk Meningkatkan Relevansi Lulusan
Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, menyatakan bahwa kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan kesesuaian antara lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan pasar kerja. "Nanti mungkin ada beberapa yang harus kami eksekusi dalam waktu tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi, perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi," kata Badri dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com. Menurutnya, kebijakan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah menjawab persoalan mismatch antara lulusan dan dunia kerja yang selama ini masih terjadi.
Data Lulusan dan Kebutuhan Industri
Kemendiktisaintek mencatat, setiap tahun perguruan tinggi meluluskan sekitar 1,9 juta mahasiswa, terdiri dari 1,7 juta sarjana dan sisanya diploma. Di sisi lain, kondisi deindustrialisasi dini membuat serapan tenaga kerja belum optimal. Untuk itu, pemerintah mendorong penguatan sektor industri, khususnya pada delapan sektor strategis, yakni energi, pangan, kesehatan, pertahanan, maritim, hilirisasi, digitalisasi, dan manufaktur maju. "Sebenarnya yang dibutuhkan itu prodi apa ke depan, itu yang akan kita coba susun nanti bersama," ujar Badri.
Strategi Market Driven Menimbulkan Kelebihan Suplai
Badri menilai, pendidikan tinggi seharusnya berperan penting dalam memanfaatkan bonus demografi dengan menghasilkan lulusan yang sesuai kebutuhan masa depan. Namun, saat ini banyak perguruan tinggi masih menerapkan strategi market driven, yakni membuka prodi berdasarkan minat pasar sesaat dari calon mahasiswa. Hal ini dinilai memicu kelebihan pasokan lulusan di bidang tertentu. "Akibatnya kelebihan suplai di situ, saya bisa mengecek juga misalnya tahun 2028 itu sebenarnya kita kelebihan suplai dokter. Kalau misalnya ini dibiarkan, apalagi terjadi mal-distribusi, tidak keseimbangan distribusi di masing-masing daerah," jelasnya.
Jurusan Kependidikan dan Potensi Pengangguran Terdidik
Selain itu, pemerintah juga mencatat jurusan kependidikan menghasilkan sekitar 490.000 lulusan setiap tahun, sementara kebutuhan guru hanya sekitar 20.000 orang. Kondisi ini berpotensi menambah angka pengangguran terdidik. Oleh karena itu, penyesuaian prodi menjadi krusial untuk menghindari kelebihan suplai tenaga kerja di bidang tertentu.
Beralih ke Strategi Market Driving
Pemerintah mendorong perguruan tinggi mulai beralih ke strategi market driving, yakni menyesuaikan dan bahkan mengarahkan pasar melalui pembukaan program studi yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan. "Caranya program studinya yang disesuaikan, perlu dikembangkan prodi-prodi baru yang sesuai dengan delapan industri strategis, nah tentu perlu ada kerelaan dari masing-masing rektor untuk melakukan kajian itu, disesuaikan agar prodinya memang relevan," kata Badri. Dengan demikian, diharapkan lulusan perguruan tinggi dapat lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja dan berkontribusi pada pembangunan nasional.



