Dekan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Rr. Siti Murtiningsih, mengungkapkan bahwa lulusan filsafat justru paling dibutuhkan oleh industri. Hal ini disampaikan dalam acara diskusi publik yang digelar di kampus UGM, Selasa (2/5/2026). Menurutnya, kemampuan berpikir kritis dan analitis yang dimiliki lulusan filsafat menjadi modal utama yang dicari oleh perusahaan.
Filsafat dan Industri
Dr. Siti Murtiningsih menjelaskan bahwa meskipun filsafat sering dianggap sebagai ilmu yang abstrak dan tidak praktis, justru di era disrupsi seperti sekarang, kemampuan berpikir mendalam sangat diperlukan. “Industri membutuhkan orang yang mampu menganalisis masalah secara kompleks, tidak hanya sekadar menjalankan perintah. Lulusan filsafat memiliki keunggulan dalam hal ini,” ujarnya.
Kemampuan yang Dicari
Ia menambahkan bahwa lulusan filsafat dilatih untuk mempertanyakan asumsi, mengevaluasi argumen, dan merumuskan solusi kreatif. Kemampuan ini sangat relevan di berbagai sektor, termasuk teknologi, bisnis, dan pemerintahan. “Banyak perusahaan rintisan (startup) yang merekrut lulusan filsafat untuk posisi strategis karena mereka mampu melihat gambaran besar,” kata Dr. Siti.
Tantangan dan Harapan
Meski demikian, Dr. Siti mengakui bahwa masih ada stigma negatif terhadap filsafat di masyarakat. Banyak orang tua yang khawatir anaknya sulit mendapat pekerjaan jika kuliah filsafat. “Kami terus melakukan sosialisasi bahwa filsafat bukan hanya tentang teori, tetapi juga aplikatif. Lulusan kami banyak yang sukses di berbagai bidang,” tegasnya.
Ia berharap ke depan semakin banyak industri yang menyadari pentingnya filsafat. “Kami juga mendorong mahasiswa untuk magang dan terlibat langsung dengan dunia industri agar pengalaman mereka semakin relevan,” pungkas Dr. Siti Murtiningsih.



