Seorang penyandang tunarungu bernama Pasha berhasil mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026 di Universitas Airlangga (Unair) dengan bantuan penerjemah bahasa isyarat. Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak calon mahasiswa, terutama mereka yang memiliki keterbatasan fisik.
Perjuangan Pasha dalam UTBK
Pasha, yang memiliki keterbatasan pendengaran sejak lahir, harus berjuang lebih keras dalam mempersiapkan diri menghadapi UTBK. Meskipun demikian, ia tetap optimis dan percaya diri. Pada hari ujian, ia didampingi oleh seorang penerjemah bahasa isyarat yang membantunya memahami instruksi soal. Unair juga menyediakan ruang ujian khusus dengan pencahayaan yang baik dan tempat duduk yang nyaman.
Dukungan dari Universitas Airlangga
Universitas Airlangga memberikan perhatian khusus bagi peserta UTBK yang berkebutuhan khusus. Selain menyediakan penerjemah, Unair juga memberikan tambahan waktu pengerjaan soal bagi Pasha. Hal ini sesuai dengan komitmen Unair sebagai kampus inklusif yang ramah bagi penyandang disabilitas.
Harapan Pasha untuk Masa Depan
Pasha berharap dapat lolos seleksi dan diterima di jurusan yang ia impikan, yaitu Ilmu Komunikasi. Ia ingin membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk meraih mimpi. Kisah Pasha diharapkan dapat memotivasi penyandang disabilitas lainnya untuk terus berjuang dan tidak menyerah dalam mengejar pendidikan tinggi.
Dengan semangat dan dukungan dari berbagai pihak, Pasha menjadi contoh nyata bahwa inklusivitas dalam pendidikan dapat terwujud. UTBK 2026 di Unair menjadi saksi perjuangan para peserta, termasuk Pasha, yang memiliki tekad kuat untuk meraih cita-cita.



