Yogyakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah mahasiswa mengungkapkan alasan di balik aksi menggeruduk dan mengejar para pejabat negara yang hadir dalam acara diskusi di Joglo GIK UGM, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Senin (16/6) malam. Acara diskusi bertajuk 'Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia' tersebut dihadiri oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko.
Aksi Mahasiswa Mulai Saat Giliran Budiman Berbicara
Forum Kopdar yang digelar di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mulanya berlangsung lancar dan kondusif. Ketiga pejabat mendapatkan giliran berbicara di atas panggung. Namun, situasi berubah ketika giliran Budiman Sudjatmiko berbicara. Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UGM merangsek naik ke panggung, menyebabkan acara menjadi tidak terkendali.
Budiman dilaporkan 'hilang' setelah turun dari panggung, sementara Sudaryono dan Nusron harus berjalan kaki dan dikejar-kejar oleh mahasiswa sebelum akhirnya berhasil dievakuasi menggunakan mobil patwal di timur bundaran UGM. Sebelum dievakuasi, keduanya sempat terlibat diskusi dengan mahasiswa di dekat pintu selatan kampus. Sebagian mahasiswa mengklaim telah hadir lebih dulu untuk menyaksikan acara diskusi tersebut.
Alasan Mahasiswa: Pejabat Tidak Layak Bicara Pancasila
Mesa, perwakilan dari Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM yang ikut dalam aksi, menjelaskan alasan di balik gerakan tersebut. "Mereka tidak layak membicarakan Pancasila selagi Indonesia masih membungkam suara rakyat, selama mereka menganggap kritik sebagai gangguan, selama mereka masih membuang-buang uang rakyat dengan program nirmanfaat," ujar Mesa kepada CNNIndonesia.com seusai aksi.
Mesa menegaskan bahwa aksi menggeruduk acara diskusi yang dihadiri pejabat pemerintah adalah hal yang wajar dalam negara demokrasi. "Saat ini mereka [pemerintah] tidak hanya bisa dibisiki, tapi memang harus diteriaki. Mereka memang harus didatangi karena tidak ada cara yang efektif selain cara itu. Bahkan ketika itu dilakukan, tidak ada jaminan bahwa mereka merasa bersalah," lanjutnya.
Kritik Terhadap Budiman Sudjatmiko dan Program Pengentasan Kemiskinan
Mesa menyoroti sikap Budiman Sudjatmiko yang dianggap telah berubah. "Sosok Budiman yang pernah jadi inspirasi karena aktivismenya, kini malah berpaling dan mengkhianati adik-adiknya. Kinerja pengentasan kemiskinan juga dianggap tidak berpihak pada rakyat kecil," tegas Mesa.
Ia juga mengkritik program-program pemerintah yang dinilai tidak efektif. "Jika kami dianggap jahat, merusuh, atau apa pun itu, sesungguhnya kejahatan mereka sangat-sangat lebih besar karena ada banyak rakyat yang tanahnya dirampas, meja makannya tidak diisi oleh makanan. Karena apa? Karena tanah bertani mereka digunakan untuk PSN yang ditanami ubi, jagung, dan sebagainya yang tidak jelas," ucap Mesa.
Mahasiswa Tidak Anti Pejabat, Asalkan Jangan Membawa Data Rekayasa
Mesa menegaskan bahwa mahasiswa UGM tidak anti atau menolak kedatangan pejabat ke kampus. Namun, mereka meminta agar pejabat yang datang tidak membawa data-data hasil rekayasa yang dipilah agar terlihat positif di mata publik. "Jika mereka berbohong, menipu, inilah yang akan kami lakukan. Untuk apa? Untuk mengingatkan bahwasannya kalian tidak bisa membodohi kami," pungkasnya.
Aksi kejar-kejaran antara mahasiswa dan pejabat, menurut Mesa, sebetulnya terjadi karena para pejabat menghindar dan tidak bersedia diajak diskusi serta menjawab pertanyaan mahasiswa. "Aksi kejar-kejaran itu sebetulnya karena mereka menghindar," ujarnya.



